Jawaban langsung: ya, mayoritas program studi keperawatan di Indonesia menerima skripsi berdesain eksperimen atau kuasi-eksperimen, khususnya untuk menguji efektivitas suatu intervensi keperawatan (edukasi, terapi komplementer, prosedur asuhan) terhadap variabel hasil seperti nyeri, kecemasan, atau kemandirian pasien — asalkan desainnya dijustifikasi dengan benar, kelompok pembanding ditentukan secara etis, dan instrumen ukur sebelum-sesudah dipilih yang sudah baku.
Kuasi-eksperimen jauh lebih umum dipakai mahasiswa S1 keperawatan dibanding eksperimen murni, karena eksperimen murni menuntut randomisasi penuh yang sulit dilakukan di lingkungan klinis nyata. Halaman ini membahas kapan desain ini diterima, bagaimana strukturnya berbeda dari BAB III metodologi umum, kelompok kontrol seperti apa yang etis, instrumen dan uji statistik yang lazim dipakai, serta alasan paling sering skripsi jenis ini dikembalikan penguji.
Apakah kampus keperawatan menerima skripsi eksperimen atau kuasi-eksperimen?
Ya, dan pada banyak program studi keperawatan desain ini justru dianjurkan karena menghasilkan bukti tingkat lebih tinggi dibanding penelitian deskriptif atau korelasional murni. Yang membedakan diterima atau tidaknya bukan jenis desainnya, melainkan tiga hal berikut.
- Kejelasan variabel bebas sebagai intervensi — ada prosedur yang benar-benar diberikan peneliti (edukasi terstruktur, senam, kompres, terapi musik, dan sejenisnya), bukan sekadar mengamati kebiasaan yang sudah berjalan.
- Kelayakan etik untuk memberi atau menahan intervensi — pembimbing dan KEPK institusi akan menilai apakah kelompok kontrol/pembanding tidak dirugikan secara tidak etis.
- Kelayakan waktu dan akses — desain pra-pasca dengan tindak lanjut butuh akses berulang ke subjek yang sama, yang harus realistis dalam jangka waktu skripsi S1 (biasanya beberapa minggu, bukan bulan).
Bila salah satu dari tiga syarat itu tidak terpenuhi, dosen pembimbing biasanya mengarahkan ke desain deskriptif-korelasional yang lebih ringan, bukan menolak topiknya secara keseluruhan.
Apa beda desain eksperimen murni dan kuasi-eksperimen dalam skripsi keperawatan?
| Aspek | Eksperimen murni (true experiment) | Kuasi-eksperimen |
|---|---|---|
| Randomisasi | Subjek diacak penuh ke kelompok intervensi/kontrol | Tidak diacak penuh — sering memakai kelompok yang sudah ada (misalnya dua ruang rawat berbeda) |
| Kelompok kontrol | Wajib ada dan setara secara acak | Bisa ada (kontrol non-ekuivalen) atau tidak ada (desain satu kelompok pra-pasca) |
| Kontrol variabel perancu | Kuat, karena randomisasi menyeimbangkan karakteristik subjek | Lebih lemah — perlu dijelaskan secara naratif variabel perancu apa yang mungkin memengaruhi hasil |
| Kepraktisan di skripsi S1 | Jarang, karena butuh kendali penuh atas alokasi subjek | Umum, karena sesuai kondisi lapangan (satu bangsal, satu puskesmas, atau satu angkatan mahasiswa) |
| Kekuatan simpulan kausal | Paling kuat di antara desain observasional | Sedang — simpulan kausal harus dilunakkan dan keterbatasan disebutkan eksplisit di BAB V |
Sebagian besar skripsi keperawatan S1 yang mengklaim “eksperimen” sebenarnya berdesain kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol non-ekuivalen atau desain satu kelompok pra-pasca test (one-group pretest-posttest). Menyebut desain dengan istilah yang tepat sejak proposal — bukan menyebut “eksperimen” padahal randomisasi tidak dilakukan — adalah hal pertama yang diperiksa penguji di bab tiga.
Bagaimana struktur BAB III untuk skripsi kuasi-eksperimen keperawatan?
Strukturnya mengikuti kerangka umum BAB III keperawatan, tetapi dengan penambahan bagian yang spesifik untuk desain intervensi.
- Jenis dan rancangan penelitian — nyatakan secara eksplisit jenis kuasi-eksperimennya: satu kelompok pra-pasca, dua kelompok non-ekuivalen, atau rancangan waktu berseri (time series).
- Populasi, sampel, dan teknik sampling — sama seperti skripsi observasional, tetapi tambahkan kriteria eksklusi yang relevan dengan intervensi (misalnya kontraindikasi medis terhadap prosedur yang diuji).
- Definisi operasional variabel — variabel bebas (intervensi) dijelaskan sebagai prosedur konkret: siapa yang memberikan, berapa lama, berapa kali, dengan protokol/SOP apa.
- Prosedur intervensi — bagian yang tidak ada pada skripsi observasional: uraikan protokol intervensi langkah demi langkah, termasuk siapa yang melatih pelaksana bila bukan peneliti sendiri.
- Instrumen pengukuran pra dan pasca — instrumen yang sama dipakai dua kali (sebelum dan sesudah intervensi), dengan jarak waktu yang dijustifikasi.
- Analisis data — uji beda pra-pasca (berpasangan) dan, bila ada kelompok kontrol, uji beda antarkelompok.
- Etika penelitian — subbab yang mendapat perhatian ekstra: bagaimana kelompok kontrol/pembanding tetap menerima standar asuhan biasa, dan kapan mereka ditawari intervensi setelah penelitian selesai (delayed intervention) sebagai kompensasi etis.

Kelompok kontrol macam apa yang etis dalam penelitian keperawatan?
Menahan intervensi dari kelompok kontrol adalah titik yang paling sering dipertanyakan KEPK dan penguji. Beberapa pola yang lazim diterima secara etis pada skripsi S1 keperawatan:
- Kontrol menerima asuhan standar (usual care), bukan tanpa perlakuan sama sekali — kelompok kontrol tetap mendapat perawatan rutin sesuai SOP ruangan, hanya tidak menerima intervensi tambahan yang sedang diuji.
- Delayed intervention (waitlist control) — kelompok kontrol menerima intervensi yang sama setelah pengambilan data selesai, sehingga tidak ada subjek yang dirugikan secara permanen.
- Kontrol historis atau desain satu kelompok — dipakai bila menahan intervensi dari sekelompok pasien dinilai tidak etis (misalnya pada kondisi nyeri akut); perbandingan dilakukan terhadap data pra-intervensi kelompok yang sama, bukan kelompok terpisah, dengan konsekuensi kekuatan simpulan kausal yang lebih lemah dan harus diakui di keterbatasan.
Pemilihan pola kontrol ini harus dijustifikasi tertulis di proposal, bukan diputuskan sepihak oleh mahasiswa — inilah salah satu bagian yang paling sering menjadi bahan diskusi dengan pembimbing sebelum kaji etik diajukan.
Selain nasib kelompok kontrol, penguji juga akan menanyakan konsistensi pelaksanaan intervensi pada kelompok yang menerimanya — dikenal sebagai fidelitas intervensi (intervention fidelity). Bila intervensi diberikan oleh lebih dari satu orang (misalnya peneliti dan asisten, atau perawat ruangan bergantian), dokumentasikan bagaimana keseragaman pelaksanaan dijaga: naskah SOP tertulis, sesi pelatihan sebelum pengambilan data dimulai, dan lembar checklist yang diisi setiap sesi untuk memastikan setiap subjek benar-benar menerima intervensi dengan dosis dan cara yang sama. Tanpa dokumentasi ini, penguji berhak mempertanyakan apakah perbedaan hasil pra-pasca benar-benar berasal dari intervensi atau dari variasi cara pemberiannya.
Instrumen dan alat ukur apa yang lazim dipakai pada penelitian intervensi keperawatan?
Instrumen pengukuran pra-pasca harus sensitif terhadap perubahan dalam rentang waktu penelitian yang pendek. Beberapa kategori instrumen yang umum dipakai bergantung pada variabel hasil:
- Skala nyeri — Numeric Rating Scale (NRS) atau Wong-Baker FACES, dipilih sesuai usia dan kemampuan komunikasi subjek.
- Skala kecemasan — instrumen baku yang sudah tervalidasi dan diadaptasi ke Bahasa Indonesia, bukan kuesioner buatan sendiri tanpa uji validitas.
- Skala kemandirian atau fungsi fisik — indeks fungsional standar yang biasa dipakai pada populasi lansia atau pasca-bedah.
- Data fisiologis objektif — tekanan darah, saturasi oksigen, atau kadar gula darah, diukur dengan alat terkalibrasi dan prosedur pengukuran yang konsisten pra dan pasca.
Kesalahan yang sering ditemukan: memakai instrumen berbeda untuk pengukuran pra dan pasca, atau instrumen yang belum diuji validitas-reliabilitasnya pada populasi sejenis. Panduan memilih instrumen baku yang sudah diverifikasi status izinnya dibahas lebih lengkap pada daftar instrumen baku untuk skripsi keperawatan.

Uji statistik apa yang dipakai untuk desain pra-pasca dan kuasi-eksperimen?
Pemilihan uji bergantung pada jumlah kelompok, distribusi data, dan apakah data berpasangan atau independen.
| Situasi | Data terdistribusi normal | Data tidak normal |
|---|---|---|
| Satu kelompok, pra vs pasca (berpasangan) | Uji t berpasangan (paired t-test) | Uji Wilcoxon signed-rank |
| Dua kelompok independen, perbandingan selisih | Uji t independen (independent t-test) | Uji Mann-Whitney U |
| Lebih dari dua kelompok atau pengukuran berulang | ANOVA repeated measures | Uji Friedman |
| Mengontrol variabel perancu pada kuasi-eksperimen | ANCOVA (memakai nilai pra sebagai kovariat) | Analisis nonparametrik dengan penyesuaian peringkat |
Uji normalitas (Shapiro-Wilk untuk sampel kecil khas skripsi S1) dijalankan lebih dulu untuk menentukan jalur mana yang dipakai. Panduan lengkap uji asumsi klasik dan langkah menjalankannya di SPSS ada pada panduan uji asumsi klasik di SPSS, dan bila data ternyata tidak normal, pilihan tindak lanjutnya dibahas di pilihan ketika data skripsi tidak normal.
Berapa jumlah sampel yang wajar untuk skripsi kuasi-eksperimen keperawatan?
Skripsi S1 keperawatan berdesain kuasi-eksperimen umumnya memakai sampel yang jauh lebih kecil dibanding skripsi survei deskriptif, karena setiap subjek diukur berulang (pra dan pasca) dan sering butuh kontak tatap muka langsung yang memakan waktu peneliti. Beberapa pertimbangan yang biasa dipakai membenarkan jumlah sampel kecil pada desain ini:
- Perhitungan berbasis effect size, bukan rumus populasi umum seperti Slovin — desain eksperimen memakai power analysis (G*Power atau tabel Cohen) yang memperhitungkan besar efek yang diharapkan, taraf signifikansi, dan power penelitian (umumnya 80 persen). Panduan menghitung sampel secara umum, termasuk kapan rumus populasi tidak cocok dipakai, ada pada cara menentukan jumlah sampel skripsi.
- Populasi yang memang terbatas — misalnya jumlah pasien dengan kondisi tertentu di satu ruang rawat dalam periode pengambilan data yang wajar untuk skripsi S1.
- Justifikasi eksplisit di BAB III — bila sampel kecil (di bawah 30 per kelompok), sebutkan alasannya (populasi terbatas, keterbatasan waktu) dan akui sebagai keterbatasan penelitian di BAB V, bukan menyembunyikannya.
Sampel kecil pada desain kuasi-eksperimen bukan otomatis cacat metodologis, asalkan uji statistik yang dipilih sesuai (banyak uji nonparametrik justru dirancang untuk sampel kecil) dan keterbatasan generalisasinya diakui secara jujur.
Apa alasan paling sering skripsi eksperimen keperawatan ditolak atau diminta revisi besar?
- Menyebut desain “eksperimen” padahal tidak ada randomisasi — istilah yang tidak akurat langsung dipertanyakan penguji di awal sidang.
- Tidak ada kelompok pembanding sama sekali dan tidak dijustifikasi mengapa — desain satu kelompok pra-pasca sah, tetapi harus dijelaskan mengapa kelompok kontrol tidak dipakai, bukan diam-diam dihilangkan.
- Waktu intervensi terlalu singkat untuk variabel hasil yang diukur — misalnya mengukur perubahan kemandirian fungsional hanya dalam tiga hari, padahal perubahan semacam itu butuh waktu lebih panjang secara klinis.
- Pelaksana intervensi bukan peneliti dan tidak dilatih terstandardisasi — bila intervensi dilakukan oleh perawat ruangan, protokol pelatihan dan fidelitas pelaksanaan harus didokumentasikan.
- Subbab etika tidak menjelaskan nasib kelompok kontrol — KEPK dan penguji ingin tahu persis apa yang terjadi pada kelompok kontrol setelah penelitian selesai.
- Instrumen pra dan pasca tidak identik — mengganti item pertanyaan atau skala di antara dua pengukuran membatalkan validitas perbandingan.
Menyusun rumusan masalah, hipotesis, dan definisi operasional secara konsisten sejak proposal adalah cara paling efektif menghindari revisi besar di poin-poin ini. Tesify membantu menyusun draf proposal dan BAB III skripsi kuasi-eksperimen agar rancangan, definisi operasional, dan rencana analisis tetap sejalan dari bab satu sampai bab lima — mahasiswa tetap yang memutuskan desain dan bertanggung jawab atas keputusan metodologis akhirnya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah skripsi keperawatan boleh tanpa kelompok kontrol?
Boleh, memakai desain satu kelompok pra-pasca test, tetapi harus dijustifikasi mengapa kelompok kontrol tidak dipakai (biasanya karena pertimbangan etis atau keterbatasan populasi), dan keterbatasan simpulan kausalnya harus diakui eksplisit di BAB V.
Berapa lama durasi intervensi yang wajar untuk skripsi S1?
Bergantung pada variabel hasil yang diukur — nyeri akut bisa berubah dalam hitungan menit sampai jam, sementara kemandirian fungsional atau kualitas hidup butuh minggu. Durasi harus sesuai bukti bahwa variabel tersebut memang bisa berubah dalam rentang waktu itu, bukan disesuaikan dengan deadline skripsi semata.
Apakah kuasi-eksperimen lebih mudah dari eksperimen murni?
Lebih mudah dari sisi kelayakan pelaksanaan di lapangan, tetapi menuntut penjelasan tertulis yang lebih hati-hati soal variabel perancu dan keterbatasan simpulan kausal, karena tidak ada randomisasi yang menyeimbangkan kelompok secara otomatis.
Apakah boleh memakai instrumen buatan sendiri untuk mengukur hasil intervensi?
Sebaiknya tidak, kecuali sudah melalui uji validitas dan reliabilitas formal. Instrumen baku yang sudah tervalidasi jauh lebih mudah dipertahankan saat sidang dibanding instrumen buatan sendiri yang belum teruji.
Bagaimana bila hasil intervensi ternyata tidak signifikan secara statistik?
Bukan kegagalan penelitian. Laporkan apa adanya, diskusikan kemungkinan penyebab (ukuran sampel kecil, durasi terlalu singkat, atau intervensi memang belum cukup kuat efeknya), dan bandingkan dengan penelitian terdahulu yang hasilnya sejalan maupun berbeda.
Apakah kelompok kontrol wajib berasal dari lokasi yang sama dengan kelompok intervensi?
Tidak wajib, tetapi disarankan sedapat mungkin agar karakteristik lingkungan dan standar asuhan relatif setara. Bila memakai dua lokasi berbeda (misalnya dua ruang rawat atau dua puskesmas), sebutkan kesetaraan karakteristik dasarnya sebagai bagian dari analisis data.
Apakah desain kuasi-eksperimen butuh kaji etik yang lebih ketat dibanding penelitian deskriptif?
Umumnya ya, karena ada intervensi aktif yang diberikan ke subjek manusia. KEPK akan menilai keamanan prosedur, nasib kelompok kontrol, dan hak subjek untuk mengundurkan diri kapan saja tanpa kehilangan akses ke asuhan standar.
Apakah hasil skripsi kuasi-eksperimen bisa dipublikasikan sebagai artikel jurnal?
Bisa, dan desain intervensi umumnya lebih diminati jurnal keperawatan dibanding penelitian deskriptif murni, asalkan protokol intervensi dan pertimbangan etisnya dilaporkan lengkap sesuai standar pelaporan penelitian intervensi.
Apakah jumlah sampel kecil membuat skripsi kuasi-eksperimen otomatis ditolak?
Tidak otomatis, selama jumlahnya dijustifikasi dengan perhitungan power analysis atau alasan populasi terbatas, uji statistik yang dipilih sesuai untuk sampel kecil, dan keterbatasan generalisasinya diakui jujur di BAB V, bukan disembunyikan.
Apakah boleh menambah kelompok kontrol setelah proposal disetujui tanpa kelompok kontrol?
Secara teknis boleh, tetapi berarti mengubah rancangan penelitian yang sudah disetujui pembimbing dan KEPK, sehingga perlu pengajuan amandemen proposal dan kaji etik ulang, bukan sekadar keputusan sepihak di tengah pengambilan data.
