Bimbingan ketiga, dan komentarnya masih sama: “instrumennya dari mana, sudah valid belum, izinnya ada?” Padahal Anda sudah menyalin kuesioner dari skripsi kakak tingkat, sudah menghitung alfa Cronbach, dan sudah menulis dua halaman tentang validitas. Yang diminta pembimbing keperawatan sebenarnya bukan kuesioner yang lebih panjang, melainkan alat ukur baku yang tepat untuk variabel Anda, dengan nama, jumlah butir, rentang skor, titik potong, sumber adaptasi Indonesia, dan status izin yang ditulis lengkap dalam satu paragraf. Artikel ini memberi dua belas alat ukur yang paling sering diterima pada skripsi keperawatan Indonesia, lengkap dengan angka-angka itu dan status izin yang kami periksa langsung pada laman pengembangnya, lalu cara menuliskannya di BAB III agar tidak kembali untuk keempat kalinya.
Mengapa instrumen menjadi subbab yang paling sering dikembalikan?
Karena penguji keperawatan menilai instrumen dari empat hal sekaligus, dan skripsi biasanya hanya memenuhi satu atau dua: kesesuaian alat ukur dengan definisi operasional variabel, bukti validitas dan reliabilitas pada populasi Indonesia, titik potong yang dipakai untuk mengategorikan skor, dan izin pemakaian. Kuesioner yang diambil dari lampiran skripsi lain hampir selalu gagal pada dua hal terakhir, karena lampiran jarang menyebut versi, titik potong, dan pemegang hak cipta. Struktur BAB III secara keseluruhan, termasuk tiga situasi instrumen (baku, adaptasi, buatan sendiri), sudah diuraikan pada panduan cara menulis BAB III skripsi keperawatan; artikel ini mengisi situasi pertama dengan nama-nama alat ukurnya.
Dua belas alat ukur baku yang paling sering diterima penguji keperawatan
Titik potong pada tabel adalah yang paling lazim dikutip; sebagian alat ukur punya beberapa versi titik potong, jadi sebutkan versi mana yang Anda pakai dan sumbernya. Status izin diperiksa pada laman resmi masing-masing pada 30 Agustus 2026 dan bisa berubah.
| Variabel | Alat ukur (pengembang asli) | Butir dan rentang skor | Titik potong yang lazim | Status izin (diperiksa 30 Agustus 2026) |
|---|---|---|---|---|
| Kemandirian aktivitas harian | Indeks Barthel (Mahoney dan Barthel, 1965) | 10 butir, 0–100 | 0–20 ketergantungan total, 21–60 berat, 61–90 sedang, 91–99 ringan, 100 mandiri (Shah dan rekan, 1989) | Bebas dipakai dengan mengutip sumber asli |
| Kemandirian aktivitas harian (versi ringkas) | Indeks Katz (Katz dan rekan, 1963) | 6 butir, 0–6 | 6 mandiri, 4 ketergantungan sedang, 2 atau kurang ketergantungan berat | Bebas dipakai dengan mengutip sumber asli |
| Risiko luka tekan (dekubitus) | Skala Braden (Bergstrom dan Braden, 1987) | 6 subskala, 6–23 | 18 atau kurang berisiko: 15–18 ringan, 13–14 sedang, 10–12 tinggi, 9 atau kurang sangat tinggi | Berhak cipta; laman resmi menyatakan izin hanya diberikan melalui perjanjian lisensi dengan pemegang hak cipta saat ini (Health Sense Ai). Ajukan permohonan sebelum memakai |
| Risiko jatuh pasien rawat inap | Morse Fall Scale (Morse, 1989) | 6 butir, 0–125 | 0–24 rendah, 25–44 sedang, 45 atau lebih tinggi | Bebas dipakai dengan mengutip sumber asli |
| Risiko jatuh lansia (tes kinerja) | Timed Up and Go (Podsiadlo dan Richardson, 1991) | 1 tes, detik | 12 detik atau lebih menunjukkan risiko jatuh (CDC STEADI); sebagian pedoman memakai 13,5 detik | Domain publik |
| Fungsi kognitif | MMSE (Folstein, Folstein, dan McHugh, 1975) | 11 kelompok butir, 0–30 | 24–30 normal, 18–23 gangguan ringan, 0–17 gangguan berat; sesuaikan dengan pendidikan | Berlisensi berbayar melalui PAR Inc.; alternatif dengan pendaftaran gratis: MoCA (perlu pelatihan daring sejak 2019) |
| Depresi lansia | Geriatric Depression Scale 15 (Sheikh dan Yesavage, 1986) | 15 butir ya/tidak, 0–15 | 0–4 normal, 5–8 ringan, 9–11 sedang, 12–15 berat | Domain publik |
| Kecemasan | Hamilton Anxiety Rating Scale (Hamilton, 1959) | 14 butir, 0–56 | Kurang dari 17 ringan, 18–24 ringan sampai sedang, 25–30 sedang sampai berat | Domain publik |
| Kualitas tidur | PSQI (Buysse dan rekan, 1989) | 19 butir dalam 7 komponen, 0–21 | Lebih dari 5 kualitas tidur buruk | Hak cipta Universitas Pittsburgh; diminta lewat formulir di laman pengembang, lazim diberikan untuk penelitian nonkomersial |
| Intensitas nyeri | Numeric Rating Scale (NRS) | 1 butir, 0–10 | 1–3 ringan, 4–6 sedang, 7–10 berat | Domain publik |
| Status gizi lansia | MNA-SF (Kaiser dan rekan, 2009) | 6 butir, 0–14 | 12–14 normal, 8–11 berisiko malnutrisi, 0–7 malnutrisi | Formulir dapat diunduh dari laman resmi Nestlé Nutrition Institute; laman itu menyatakan pemakaian dalam rekam medis elektronik memerlukan izin |
| Kualitas hidup | WHOQOL-BREF (WHO, 1996) | 26 butir, 4 domain, skor ditransformasi 0–100 | Tidak ada titik potong resmi; laporkan skor domain | Izin diminta kepada WHO melalui laman resminya; versi Indonesia tersedia dari WHO |
Satu alat ukur yang sering diperlukan pada skripsi keluarga dan komunitas, Zarit Burden Interview (22 butir, 0–88; 0–20 beban ringan atau tidak ada, 21–40 ringan sampai sedang, 41–60 sedang sampai berat, 61–88 berat), didistribusikan melalui Mapi Research Trust; mahasiswa memperolehnya dengan mendaftar dan menyatakan tujuan akademik nonkomersial. Alat ukur psikologis umum seperti DASS-21 dan PSS-10 yang juga dipakai skripsi keperawatan jiwa sudah dibahas, beserta status izinnya, pada panduan skala baku untuk skripsi psikologi.

Cara memilih satu alat ukur untuk satu variabel
Mulailah dari definisi operasional, bukan dari alat ukur yang kebetulan Anda punya. Bila variabelnya “kemandirian aktivitas harian pasien pascastroke”, Indeks Barthel lebih peka terhadap perubahan daripada Katz dan lebih sering dipakai di rehabilitasi; bila variabelnya “kemandirian lansia di panti” untuk penelitian deskriptif, Katz cukup dan lebih cepat diisi. Bila variabelnya “risiko jatuh” pada pasien rawat inap, Morse Fall Scale adalah alat yang dipakai rumah sakit sehingga datanya bisa dibandingkan dengan pengkajian ruangan; pada lansia komunitas, Timed Up and Go memberi ukuran kinerja yang tidak bergantung pada laporan diri. Untuk fungsi kognitif, MMSE adalah yang paling dikenal penguji, tetapi lisensinya berbayar; sebutkan itu dan pertimbangkan MoCA atau alat lain yang disetujui pembimbing. Pilih alat ukur yang sudah punya versi Indonesia yang diuji, karena penguji akan menanyakan sumber adaptasinya; cari di GARUDA atau Google Scholar dengan pola “validitas” atau “uji reliabilitas” ditambah nama alat ukur dan kata “Indonesia”.
Desain penelitian ikut menentukan. Pada penelitian cross-sectional, alat ukur dipakai satu kali dan skornya dikategorikan dengan titik potong untuk uji hubungan; pada penelitian pra-pasca intervensi keperawatan (misalnya edukasi, relaksasi, mobilisasi), alat ukur dipakai dua kali dan skornya dipertahankan sebagai angka agar uji beda punya kuasa; uji statistik yang cocok untuk data kategori hasil titik potong dibahas pada artikel uji statistik untuk skripsi cross-sectional.
Di mana mencari versi Indonesia dan bagaimana mengutipnya
Sebagian besar alat ukur pada tabel sudah diterjemahkan dan diuji pada populasi Indonesia, tetapi bukti itu tersebar di jurnal keperawatan nasional, bukan di lampiran skripsi. Cari di GARUDA, SINTA, atau Google Scholar dengan tiga pola: “uji validitas” atau “validitas dan reliabilitas” ditambah nama alat ukur dan “Indonesia”; nama alat ukur ditambah “versi Indonesia”; dan nama alat ukur ditambah populasi Anda, misalnya “lansia” atau “pasien hemodialisis”. Baca bagian metode artikelnya dan catat empat hal: jumlah responden uji, prosedur alih bahasa, jenis bukti validitas (isi, konstruk, atau hanya korelasi butir-total), dan nilai reliabilitasnya. Artikel yang memenuhi keempatnya layak dikutip sebagai sumber versi Indonesia; artikel yang hanya menyebut “telah diterjemahkan” tidak.
Di daftar pustaka, kutip dua sumber untuk setiap alat ukur: artikel pengembang asli (misalnya Buysse dan rekan, 1989) dan artikel adaptasi Indonesia yang Anda pakai. Di dalam naskah, sebutkan keduanya pada kalimat pertama paragraf instrumen, seperti pada contoh di bawah. Bila versi Indonesia yang teruji memang belum ada, jangan menerjemahkan sendiri secara diam-diam; jalankan prosedur alih bahasa maju-mundur, uji keterbacaan, dan uji reliabilitas, lalu laporkan setiap tahapnya; prosedurnya sudah diuraikan pada situasi kedua di panduan BAB III keperawatan yang ditautkan di atas. Simpan juga tangkapan layar atau salinan laman izin pengembang dengan tanggal aksesnya, karena status izin bisa berubah, sebagaimana Skala Braden yang kini berada di bawah pemegang hak cipta baru.
Tabel kendali instrumen yang dibawa ke bimbingan
Sebelum menulis paragraf apa pun, isi satu tabel dengan tujuh kolom untuk setiap variabel: variabel dan definisi operasional; alat ukur dan pengembang asli; sumber versi Indonesia beserta nilai reliabilitasnya; jumlah butir dan cara skoring; rentang skor dan titik potong beserta sumbernya; status izin dan bukti yang dilampirkan; serta rencana uji reliabilitas pada sampel Anda. Tabel ini menjawab hampir semua pertanyaan pembimbing tentang instrumen dalam satu halaman, dan kolom yang masih kosong menunjukkan pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pengambilan data, bukan sesudahnya. Bawa tabel itu ke bimbingan; pembimbing yang melihat tujuh kolom terisi jarang mengembalikan subbab instrumen.
Paragraf instrumen BAB III yang tidak dikembalikan
Satu paragraf per variabel dengan urutan yang sama: nama alat ukur dan pengembang asli, versi Indonesia dan sumbernya, jumlah butir dan cara skoring, rentang skor dan titik potong beserta sumbernya, status izin, lalu hasil uji reliabilitas pada sampel Anda bila pembimbing memintanya. Contoh yang bisa langsung diadaptasi:
“Kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang dikembangkan oleh Buysse dan rekan (1989) versi bahasa Indonesia yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh [penulis, tahun] dengan koefisien alfa Cronbach [nilai]. Instrumen terdiri atas 19 butir yang dikelompokkan ke dalam tujuh komponen, masing-masing diskor 0 sampai 3, sehingga skor global berkisar 0 sampai 21; skor lebih dari 5 dikategorikan kualitas tidur buruk. Izin pemakaian diperoleh melalui formulir permohonan di laman Universitas Pittsburgh untuk tujuan penelitian nonkomersial, dan salinannya dilampirkan pada Lampiran 4. Pada uji reliabilitas terhadap 30 responden di luar sampel, diperoleh alfa Cronbach sebesar [nilai].”
Perhatikan yang tidak ada di paragraf itu: tidak ada kalimat “instrumen ini sudah valid dan reliabel” tanpa angka, tidak ada “diambil dari skripsi terdahulu”, dan tidak ada titik potong tanpa sumber. Tiga hal itulah yang biasanya dicoret.

Bagaimana Tesify membantu bagian ini, dan apa yang tetap harus Anda kerjakan
Bayangkan alurnya. Anda mengisi satu tabel: variabel, alat ukur yang dipilih dari daftar di atas, sumber versi Indonesia, status izin, dan hasil uji coba. Tesify menyusun paragraf instrumen untuk setiap variabel dengan urutan yang sama seperti contoh, menjaga nama alat ukur dan titik potong konsisten dari BAB III sampai tabel BAB IV dan kesimpulan BAB V, lalu menandai kalimat definisi yang terlalu mirip dengan sumbernya sebelum naskah diperiksa Turnitin. Ketika pembimbing meminta mengganti titik potong atau versi, Anda mengubah satu sel dan Tesify menunjukkan kalimat mana saja di bab lain yang ikut harus berubah. Yang tidak bisa dilakukan Tesify: meminta izin ke pengembang atas nama Anda, mengumpulkan data uji coba, atau memutuskan alat ukur mana yang disetujui pembimbing. Anda tetap penulis dan penanggung jawab skripsi; Tesify mempercepat bagian yang berulang. Bila siklus revisi Anda sudah lebih dari tiga putaran, cara memutusnya dibahas pada artikel cara memutus siklus revisi skripsi, dan bila tenggat sidang tinggal sebulan, jadwal hariannya ada pada rencana 30 hari menyelesaikan skripsi. Susun paragraf instrumen skripsi keperawatan Anda di Tesify, gratis untuk bab pertama.
Kesalahan yang paling sering membuat instrumen ditolak
- Memakai Skala Braden atau MMSE tanpa menyebut status lisensinya, lalu kaget ketika penguji menanyakan izin.
- Mengategorikan skor dengan titik potong yang berbeda dari sumber aslinya tanpa penjelasan, misalnya Morse 25–50 sedang padahal versi asli memakai 25–44.
- Mengutip versi Indonesia dari skripsi lain, bukan dari artikel jurnal yang melakukan uji validitasnya.
- Mengubah butir alat ukur baku “agar sesuai kondisi lokal” lalu tetap menyebut nama aslinya dan titik potongnya.
- Melampirkan kuesioner tanpa lembar persetujuan responden dan tanpa bukti izin pengembang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah alat ukur baku masih harus diuji validitas dan reliabilitasnya?
Validitas ulang biasanya tidak wajib bila versi Indonesia sudah diuji dan dikutip, tetapi banyak pembimbing meminta uji reliabilitas ulang pada 30 responden di luar sampel. Ikuti pedoman prodi.
Bolehkah memakai Skala Braden untuk skripsi tanpa izin?
Laman resminya menyatakan izin hanya diberikan melalui perjanjian lisensi dengan pemegang hak cipta. Ajukan permohonan dan lampirkan jawabannya, atau diskusikan alat ukur lain dengan pembimbing.
MMSE berbayar, apa alternatifnya?
MoCA dapat diperoleh dengan pendaftaran dan pelatihan daring; sebagian prodi juga menerima alat skrining kognitif lain yang versi Indonesianya sudah diuji. Sebutkan alasannya di BAB III.
Bagaimana mendapatkan PSQI versi Indonesia yang sah?
Ajukan permohonan melalui formulir di laman Universitas Pittsburgh dan kutip artikel jurnal Indonesia yang menguji validitas versi terjemahannya.
Titik potong mana yang dipakai bila sumbernya berbeda-beda?
Pilih satu, sebutkan sumbernya, dan konsisten dari BAB III sampai BAB V. Bila pembimbing memakai versi lain, ikuti pembimbing dan tetap kutip sumbernya.
Bolehkah menggabungkan dua alat ukur untuk satu variabel?
Tidak disarankan pada skripsi S1; satu variabel satu alat ukur agar titik potong dan tafsirnya tetap sah.
Apakah kuesioner pengetahuan harus baku juga?
Kuesioner pengetahuan spesifik biasanya disusun sendiri dari materi yang diteliti dan wajib diuji validitas serta reliabilitasnya; prosedurnya ada pada panduan BAB III keperawatan.
Perlukah bukti izin dilampirkan di skripsi?
Ya, untuk alat ukur yang mensyaratkan izin atau lisensi. Untuk alat ukur domain publik, cukup kutip sumber aslinya dan, bila ada, lampirkan tangkapan layar pernyataan bebas pakai.
Bagaimana bila versi Indonesia alat ukur yang saya butuhkan belum ada?
Lakukan alih bahasa maju-mundur dengan dua penerjemah, uji keterbacaan pada beberapa responden serupa, lalu uji reliabilitas; laporkan seluruh tahapnya di BAB III dan minta izin pengembang untuk menerjemahkan.
Apakah titik potong versi asli boleh dipakai pada responden Indonesia?
Boleh bila artikel adaptasi Indonesia tidak menetapkan titik potong lain; sebutkan bahwa titik potong mengikuti sumber asli dan bahas sebagai keterbatasan bila populasinya berbeda jauh.
