Penelitian tindakan kelas pada dasarnya menuntut statistik deskriptif: rata-rata nilai kelas, persentase ketuntasan klasikal, dan skor N-Gain per siklus. Uji inferensial seperti uji t berpasangan atau Wilcoxon baru diperlukan bila pembimbing meminta bukti perbedaan yang signifikan, atau bila desain Anda sebenarnya eksperimen dengan kelas kontrol, bukan PTK.
Kekeliruan paling mahal di skripsi PGSD adalah memaksakan uji inferensial pada desain yang tidak menuntutnya, lalu bingung saat penguji bertanya apa populasi yang sedang digeneralisasi. Uraian berikut memisahkan dua jalur itu dan menjelaskan uji mana yang tepat pada masing-masing jalur.
Apakah PTK benar-benar memerlukan uji statistik inferensial?
Tidak, dalam bentuk murninya. Penelitian tindakan kelas bertujuan memperbaiki praktik pembelajaran di satu kelas tertentu, bukan menggeneralisasi temuan ke populasi yang lebih luas. Karena tidak ada penarikan sampel dari populasi, uji signifikansi kehilangan pijakan logisnya: Anda bekerja dengan seluruh anggota kelas, bukan dengan sampel yang mewakili kelas-kelas lain.
Yang dituntut PTK adalah bukti perbaikan antar siklus, dan bukti itu disajikan secara deskriptif. Tiga angka yang hampir selalu diminta: rata-rata nilai kelas pada tiap siklus, persentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal, dan persentase keterlaksanaan pembelajaran berdasarkan lembar observasi.
Meski begitu, sebagian pembimbing di program studi PGSD tetap meminta uji beda antara prasiklus dan siklus terakhir sebagai penguat. Selama Anda menyajikannya sebagai pelengkap dan tidak mengklaim generalisasi, penambahan itu tidak salah.
Apa bedanya PTK dan penelitian eksperimen di skripsi PGSD?
Perbedaannya menentukan seluruh analisis Anda, jadi pastikan Anda berada di jalur yang benar sebelum mengolah data apa pun.
| Aspek | Penelitian Tindakan Kelas | Eksperimen atau Kuasi-eksperimen |
|---|---|---|
| Tujuan | Memperbaiki proses pembelajaran di satu kelas | Menguji pengaruh perlakuan terhadap hasil belajar |
| Struktur | Siklus berulang: perencanaan, tindakan, observasi, refleksi | Sekali perlakuan dengan pengukuran sebelum dan sesudah |
| Kelas pembanding | Tidak ada; pembanding adalah siklus sebelumnya | Ada kelas kontrol atau kelas pembanding |
| Analisis pokok | Deskriptif: rata-rata, ketuntasan klasikal, N-Gain | Inferensial: uji t, Mann-Whitney, atau analisis kovarian |
| Kesimpulan yang boleh ditarik | Tindakan berhasil memperbaiki hasil belajar di kelas tersebut | Terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok yang diberi perlakuan dan yang tidak |
Jika Anda berada di jalur eksperimen, penentuan besar sampel dan pembentukan kelompok menjadi wajib dibahas di BAB III; rumus dan contoh perhitungannya tersedia pada panduan cara menentukan jumlah sampel penelitian.
Bagaimana cara menghitung ketuntasan klasikal?
Ketuntasan klasikal adalah persentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal terhadap seluruh siswa di kelas. Rumusnya sederhana: jumlah siswa yang tuntas dibagi jumlah seluruh siswa, dikalikan seratus persen.
Contoh: dari 28 siswa, 19 mencapai kriteria ketuntasan minimal pada siklus pertama. Ketuntasan klasikal siklus pertama adalah 19 dibagi 28 dikalikan seratus persen, yaitu 67,86 persen.
Dua hal yang wajib Anda tulis di BAB III sebelum menghitungnya. Pertama, berapa nilai kriteria ketuntasan minimal untuk mata pelajaran tersebut di sekolah tempat Anda meneliti, dan dari dokumen apa Anda mengambilnya. Angka ini ditetapkan sekolah, bukan Anda. Kedua, berapa persen ketuntasan klasikal yang Anda tetapkan sebagai indikator keberhasilan penelitian. Ambang 75 persen dan 80 persen keduanya lazim dipakai; yang penting Anda menetapkannya sebelum data terkumpul, bukan menyesuaikannya dengan hasil.
Apa itu N-Gain dan bagaimana menafsirkan hasilnya?
N-Gain, atau gain ternormalisasi, mengukur seberapa besar peningkatan skor terhadap peningkatan maksimum yang masih mungkin dicapai. Ukuran ini lebih adil daripada selisih mentah, karena siswa dengan skor awal tinggi punya ruang peningkatan yang lebih sempit.
Rumusnya: selisih skor akhir dan skor awal, dibagi selisih skor maksimum dan skor awal.
Contoh: skor awal 40, skor akhir 76, skor maksimum 100. N-Gain sama dengan 36 dibagi 60, yaitu 0,60.
Kategori tafsiran yang paling banyak dipakai di skripsi pendidikan Indonesia:
| Nilai N-Gain | Kategori |
|---|---|
| 0,70 atau lebih | Tinggi |
| 0,30 sampai kurang dari 0,70 | Sedang |
| Kurang dari 0,30 | Rendah |
Dua catatan yang sering menyelamatkan mahasiswa saat sidang. N-Gain dapat dihitung per siswa lalu dirata-ratakan, atau dihitung dari rata-rata kelas; keduanya dipakai di berbagai skripsi, tetapi hasilnya bisa berbeda, jadi sebutkan cara mana yang Anda pakai. Selain itu, N-Gain menjadi tidak terdefinisi bila skor awal siswa sudah sama dengan skor maksimum; jelaskan bagaimana Anda memperlakukan kasus tersebut bila ada.
Kapan memakai uji t berpasangan dan kapan Wilcoxon?
Keduanya menguji hal yang sama, yakni perbedaan skor sebelum dan sesudah pada kelompok orang yang sama. Yang membedakan adalah syarat sebaran data. Uji t berpasangan mensyaratkan selisih skor berdistribusi normal; bila syarat itu tidak terpenuhi, gunakan uji Wilcoxon sebagai padanan nonparametriknya.
Urutan kerjanya: hitung selisih skor akhir dikurangi skor awal untuk tiap siswa, uji normalitas pada selisih tersebut, lalu pilih ujinya. Untuk satu kelas yang umumnya berisi kurang dari lima puluh siswa, uji normalitas yang lazim dipakai adalah Shapiro-Wilk. Bila nilai signifikansi melebihi 0,05, sebaran dianggap normal dan uji t berpasangan dapat dipakai.
Bila hasil uji normalitas tidak mendukung, jangan memaksakan uji t dengan alasan hasilnya lebih bagus. Pilihan yang tersedia dan konsekuensi masing-masing diuraikan pada pembahasan langkah yang benar ketika data tidak berdistribusi normal. Untuk membandingkan nilai t hitung dengan nilai kritisnya secara manual, gunakan tabel nilai kritis t dan r pada derajat bebas yang sesuai.
Bagaimana kalau desain saya kelas eksperimen dan kelas kontrol?
Anda berpindah ke uji beda dua kelompok yang saling bebas. Urutannya tiga tahap.
Tahap pertama, uji normalitas pada masing-masing kelompok. Tahap kedua, uji homogenitas ragam antar kedua kelompok. Tahap ketiga, pilih uji: bila kedua kelompok normal dan ragamnya homogen, gunakan uji t sampel bebas; bila normal tetapi ragam tidak homogen, gunakan uji t dengan koreksi ragam tidak sama; bila salah satu kelompok tidak normal, gunakan Mann-Whitney.
Satu tambahan yang sering diminta penguji: bila skor awal kedua kelas sudah berbeda sejak sebelum perlakuan, membandingkan skor akhir saja menjadi menyesatkan. Dalam kondisi itu, bandingkan skor N-Gain kedua kelas, atau gunakan analisis kovarian dengan skor awal sebagai peubah pengiring. Sebutkan alasan pilihan Anda secara eksplisit di BAB III.
Bagaimana menguji kelayakan soal tes hasil belajar?
Instrumen utama skripsi PGSD biasanya soal tes hasil belajar buatan sendiri, dan inilah bagian yang paling sering diminta diperbaiki. Empat pemeriksaan yang umumnya dituntut.
- Validitas isi. Susun kisi-kisi yang memetakan setiap butir soal ke kompetensi dasar dan indikator pembelajaran, lalu mintakan penilaian kepada dosen ahli dan guru kelas. Lampirkan lembar validasi beserta tanda tangannya.
- Validitas butir. Ujicobakan soal pada kelas lain dengan tingkat yang sama, lalu hitung korelasi tiap butir dengan skor total. Untuk soal pilihan ganda yang dinilai benar-salah, korelasi titik biserial adalah ukuran yang tepat.
- Reliabilitas. Untuk soal dikotomis gunakan formula Kuder-Richardson; untuk soal uraian berskala gunakan koefisien alfa Cronbach. Ambang yang lazim diterima adalah 0,70.
- Tingkat kesukaran dan daya pembeda. Butir dengan tingkat kesukaran terlalu ekstrem atau daya pembeda rendah sebaiknya diperbaiki atau dibuang sebelum dipakai.
Langkah teknis menjalankan uji validitas dan reliabilitas di perangkat lunak statistik, termasuk pilihan gratisnya, dibandingkan pada ulasan alat untuk uji validitas dan reliabilitas instrumen.
Bagaimana mengolah lembar observasi aktivitas siswa dan keterlaksanaan pembelajaran?
Data observasi diolah sebagai persentase, bukan diuji beda. Jumlahkan skor yang diperoleh, bagi dengan skor maksimum seluruh butir, kalikan seratus persen, lalu masukkan ke kategori yang Anda tetapkan sendiri di BAB III, misalnya sangat baik, baik, cukup, dan kurang beserta rentang persentasenya.
Yang menaikkan mutu skripsi Anda adalah keterhubungan antara data observasi dan data hasil belajar. Kalau ketuntasan klasikal siklus pertama rendah dan lembar observasi menunjukkan hanya sebagian langkah pembelajaran terlaksana, refleksi siklus pertama Anda menjadi berdasar dan tindakan perbaikan di siklus kedua menjadi masuk akal. Tanpa keterhubungan itu, bagian refleksi akan terbaca sebagai tebakan.
Berapa siklus yang dibutuhkan dan kapan penelitian dihentikan?
Dua siklus adalah jumlah yang paling umum di skripsi PGSD, tetapi jumlah siklus bukan target melainkan akibat. Penelitian dihentikan ketika indikator keberhasilan yang Anda tetapkan di BAB III sudah tercapai. Jika indikator sudah tercapai pada siklus pertama, Anda tetap dianjurkan menjalankan siklus kedua untuk memastikan hasilnya bukan kebetulan; jika belum tercapai pada siklus kedua, siklus ketiga menjadi keharusan, bukan pilihan.
Karena itu, indikator keberhasilan wajib ditulis dalam angka sejak BAB III. Contoh rumusan yang bisa Anda adaptasi: “Penelitian dinyatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 80 persen siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal sebesar 70, rata-rata nilai kelas mencapai minimal 75, dan keterlaksanaan pembelajaran berdasarkan lembar observasi mencapai sekurang-kurangnya 85 persen.”
Setelah seluruh angka per siklus terkumpul, tantangan berikutnya adalah mengubah tabel dan grafik itu menjadi narasi yang menjelaskan mengapa perubahan terjadi; alurnya diuraikan pada panduan menulis bab hasil dan pembahasan dari keluaran analisis.
Menyusun bab analisis PTK tanpa berhari-hari merapikan tabel
Bagian yang paling menghabiskan waktu di skripsi PTK bukan menghitung, melainkan menuliskannya: menyusun tabel perbandingan antar siklus, menjaga konsistensi istilah antara BAB III dan BAB IV, dan menarasikan refleksi tiap siklus tanpa mengulang angka yang sudah ada di tabel. Susun kerangka skripsi PTK Anda bersama Tesify untuk mempercepat bagian penulisannya. Data kelas, keputusan tindakan, dan penafsiran hasil tetap sepenuhnya milik dan tanggung jawab Anda sebagai peneliti.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah skripsi PTK wajib memakai SPSS?
Tidak wajib. Analisis pokok PTK berupa rata-rata, persentase ketuntasan klasikal, dan N-Gain, yang seluruhnya dapat dihitung dengan lembar kerja biasa. Perangkat lunak statistik baru diperlukan bila pembimbing meminta uji normalitas dan uji beda. Tanyakan kepada pembimbing sejak proposal agar Anda tidak menyiapkan hal yang tidak diminta.
Berapa nilai N-Gain yang dianggap berhasil?
Kategori yang paling banyak dipakai menempatkan nilai 0,70 ke atas sebagai tinggi, 0,30 sampai kurang dari 0,70 sebagai sedang, dan di bawah 0,30 sebagai rendah. Sebagian besar skripsi PGSD dengan hasil kategori sedang sudah dianggap memadai, asalkan indikator ketuntasan klasikal yang Anda tetapkan juga tercapai.
Apakah uji normalitas perlu dilakukan pada satu kelas yang hanya berisi 28 siswa?
Perlu, bila Anda hendak memakai uji t berpasangan, karena uji itu mensyaratkan selisih skor berdistribusi normal. Untuk jumlah di bawah lima puluh, uji Shapiro-Wilk lebih tepat daripada Kolmogorov-Smirnov. Bila analisis Anda murni deskriptif, uji normalitas tidak diperlukan sama sekali.
Bolehkah PTK hanya satu siklus?
Sebagian besar program studi PGSD menolak PTK satu siklus, karena inti penelitian tindakan adalah refleksi yang menghasilkan perbaikan pada siklus berikutnya. Tanpa siklus kedua, tidak ada bukti bahwa refleksi Anda menghasilkan tindakan yang lebih baik. Dua siklus adalah jumlah minimum yang lazim diterima.
Apa yang harus dilakukan jika hasil siklus kedua justru menurun?
Laporkan apa adanya dan cari penjelasannya pada data observasi dan catatan lapangan, misalnya tingkat kesukaran soal yang berbeda, jadwal pembelajaran yang terpotong, atau langkah tindakan yang tidak terlaksana penuh. Penurunan yang dijelaskan dengan bukti jauh lebih dihargai penguji daripada angka yang selalu naik tanpa penjelasan.
Apakah soal pretest dan posttest boleh persis sama?
Boleh dan lazim dipakai, tetapi Anda perlu mengakui risikonya di bagian keterbatasan: siswa dapat mengingat soal, sehingga sebagian peningkatan berasal dari efek pengujian, bukan dari pembelajaran. Alternatif yang lebih kuat adalah menyusun dua perangkat soal setara dari kisi-kisi yang sama.
Dari mana saya mengambil nilai kriteria ketuntasan minimal?
Dari dokumen kurikulum sekolah tempat Anda meneliti, biasanya melalui guru kelas atau bagian kurikulum. Nilai ini ditetapkan sekolah untuk tiap mata pelajaran dan tingkat kelas, jadi Anda tidak boleh menentukannya sendiri. Sebutkan sumber dokumennya di BAB III dan lampirkan bila memungkinkan.
Berapa jumlah siswa untuk uji coba soal tes?
Praktik yang umum adalah satu kelas paralel pada tingkat yang sama dengan kelas penelitian, sekitar dua puluh sampai tiga puluh siswa, dan bukan kelas yang akan Anda teliti. Menggunakan kelas penelitian untuk uji coba akan mencemari hasil karena siswa sudah mengenal soalnya.
Apakah PTK boleh dilakukan pada kelas tempat saya mengajar sendiri?
Justru itulah bentuk aslinya, karena penelitian tindakan kelas dirancang untuk dilakukan guru terhadap praktiknya sendiri. Untuk mahasiswa PGSD yang belum mengajar, pola yang lazim adalah berkolaborasi dengan guru kelas: guru melaksanakan tindakan, mahasiswa mengamati, atau sebaliknya. Sebutkan peran masing-masing pihak secara eksplisit di BAB III.
Bagaimana menuliskan hasil uji t berpasangan di BAB IV?
Sebutkan rata-rata dan simpangan baku kedua pengukuran, nilai t hitung, derajat bebas, dan nilai signifikansi, lalu tarik kesimpulan dalam bahasa penelitian Anda, bukan bahasa perangkat lunak. Tambahkan besaran perubahan dalam satuan nilai, karena signifikansi statistik tidak sama dengan peningkatan yang bermakna secara pendidikan.
