SPSS vs JASP vs Excel untuk Uji Validitas dan Reliabilitas Skripsi 2026

Untuk uji validitas dan reliabilitas skripsi, keempat perangkat di bawah ini sama-sama mampu menghasilkan angka yang benar. Yang membedakan adalah biaya, ketersediaan lisensi di kampus Anda, dan seberapa mudah keluarannya disalin ke dalam laporan. Berikut perbandingannya sebelum penjelasan apa pun.

Perangkat Biaya Uji validitas (korelasi butir) Reliabilitas (Cronbach alpha) Kurva belajar Paling cocok untuk
IBM SPSS Statistics Berbayar, banyak kampus menyediakan lisensi Ya, dengan menu bawaan Ya, dengan menu bawaan Sedang Mahasiswa yang pembimbingnya meminta keluaran SPSS
JASP Gratis, sumber terbuka Ya Ya Rendah Mahasiswa tanpa akses lisensi kampus
Microsoft Excel Berbayar, umumnya sudah tersedia Ya, dengan rumus manual Perlu dihitung bertahap Rendah untuk yang terbiasa, tinggi untuk rumusnya Kuesioner kecil dan sederhana
R Gratis, sumber terbuka Ya Ya Tinggi Mahasiswa yang berlanjut ke analisis lanjutan

Kriteria penilaian yang dipakai artikel ini

Agar Anda dapat menilai sendiri apakah rekomendasi ini sesuai dengan keadaan Anda, berikut kriteria yang dipakai, disebutkan di awal:

  1. Ketersediaan. Bisakah Anda memakainya sekarang tanpa biaya tambahan?
  2. Kesesuaian dengan kebiasaan pembimbing. Apakah bentuk keluarannya dikenali penguji di kampus Indonesia?
  3. Kelengkapan uji. Apakah semua uji yang dibutuhkan skripsi tersedia tanpa berpindah perangkat?
  4. Kemudahan memindahkan hasil ke laporan. Seberapa banyak pekerjaan tambahan untuk menyusun tabelnya?

Peringkat dan alasannya

Peringkat 1: IBM SPSS Statistics

SPSS menempati peringkat pertama bukan karena paling canggih, melainkan karena paling dikenali. Sebagian besar buku panduan metodologi di Indonesia, materi kuliah statistik, dan contoh skripsi terdahulu memakai tampilan keluaran SPSS. Ketika Anda menempelkan tabel keluaran SPSS ke bab empat, pembimbing langsung mengenali bentuknya dan pembahasan berpindah ke isi, bukan ke bentuk.

Kelebihannya: menu bawaan untuk hampir semua uji yang dibutuhkan skripsi, mulai dari korelasi butir, Cronbach alpha, uji normalitas, sampai regresi berganda. Banyak perguruan tinggi menyediakan lisensi bagi mahasiswanya, jadi periksa dulu ke unit teknologi informasi kampus sebelum mencari alternatif.

Kelemahannya, disebutkan terus terang: berbayar dan tergolong mahal bila Anda harus membelinya sendiri. Versi yang beredar di luar jalur resmi berisiko dari sisi hukum dan keamanan data, dan tidak layak dijadikan pilihan. Selain itu, SPSS tidak menyediakan uji validitas sebagai satu menu tersendiri; yang Anda lakukan adalah menjalankan korelasi lalu menafsirkannya sebagai validitas butir, dan hal ini kerap membingungkan pemakai pertama kali.

Peringkat 2: JASP

JASP adalah proyek sumber terbuka yang didukung Universitas Amsterdam dan tersedia gratis. Tampilannya sengaja dibuat menyerupai perangkat lunak statistik konvensional, sehingga mahasiswa yang pernah melihat SPSS akan cepat menyesuaikan diri.

Kelebihannya: gratis sepenuhnya dan sah dipakai, hasil analisis diperbarui secara langsung ketika Anda mengubah pengaturan sehingga memudahkan penelusuran kesalahan, dan tabel keluarannya sudah tersusun rapi mengikuti gaya penulisan APA sehingga lebih mudah dipindahkan ke laporan. JASP juga menyediakan analisis dalam bentuk klasik maupun Bayesian.

Kelemahannya: belum semua pembimbing di Indonesia terbiasa melihat keluarannya. Bila pembimbing Anda secara khusus meminta tangkapan layar SPSS, memakai JASP akan menimbulkan diskusi tambahan yang sebenarnya tidak perlu. Untuk analisis yang sangat khusus, pilihannya juga lebih terbatas dibandingkan SPSS maupun R.

Dua layar berdampingan menampilkan tabel hasil analisis statistik
Untuk uji yang sama dengan data yang sama, keempat perangkat seharusnya menghasilkan angka yang sama karena rumusnya identik.

Peringkat 3: Microsoft Excel

Excel bisa mengerjakan uji validitas dan reliabilitas, tetapi tidak melalui satu tombol. Uji validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor tiap butir dan skor total memakai fungsi korelasi, lalu membandingkannya dengan nilai r tabel. Reliabilitas dihitung melalui beberapa tahap: menghitung ragam tiap butir, menjumlahkannya, menghitung ragam skor total, lalu memasukkannya ke rumus Cronbach alpha.

Kelebihannya: hampir pasti sudah tersedia di komputer Anda, dan karena setiap langkah dikerjakan sendiri, Anda benar-benar memahami asal-usul angkanya. Untuk kuesioner pendek, cara ini justru cepat.

Kelemahannya: semakin banyak butir, semakin besar peluang salah menyalin rumus, dan kesalahan semacam ini sulit terdeteksi karena hasilnya tetap berupa angka yang tampak masuk akal. Excel juga tidak menyediakan uji lanjutan yang kemungkinan Anda butuhkan di bab empat, sehingga Anda tetap harus berpindah perangkat.

Peringkat 4: R

R adalah bahasa pemrograman statistik yang gratis dan sangat lengkap. Untuk mahasiswa yang berencana melanjutkan studi atau bekerja di bidang analisis data, waktu yang diinvestasikan untuk mempelajarinya terbayar.

Kelemahannya untuk keperluan skripsi: kurva belajarnya paling curam di antara keempatnya. Bila tenggat Anda tinggal beberapa minggu dan Anda belum pernah menulis satu baris kode pun, mempelajari R sekarang berisiko menambah masalah alih-alih menyelesaikannya. Pilih R karena Anda memang ingin menguasainya, bukan karena terdesak tenggat.

Rekomendasi berdasarkan keadaan Anda

  • Kampus Anda menyediakan lisensi SPSS: pakai SPSS. Tidak ada alasan mencari alternatif ketika perangkat yang paling dikenali penguji tersedia gratis bagi Anda.
  • Tidak ada lisensi kampus dan anggaran terbatas: pakai JASP. Gratis, sah, dan keluarannya sudah rapi.
  • Kuesioner Anda di bawah 15 butir dan analisisnya deskriptif: Excel sudah memadai.
  • Pembimbing secara khusus meminta keluaran SPSS: ikuti permintaan itu. Berdebat soal perangkat lunak bukan penggunaan waktu yang bijak menjelang sidang.
  • Anda berencana lanjut S2 di bidang kuantitatif: mulai belajar R sekarang, tetapi kerjakan skripsi Anda dengan perangkat yang sudah Anda kuasai.

Apa yang sebenarnya diuji pada uji validitas dan reliabilitas?

Kedua uji ini menjawab dua pertanyaan berbeda, dan sering tertukar.

Validitas menanyakan apakah butir kuesioner benar-benar mengukur hal yang dimaksud. Pada skripsi, yang paling sering dipakai adalah validitas konstruk melalui korelasi antara skor butir dan skor total. Butir yang korelasinya rendah dianggap tidak mengukur hal yang sama dengan butir lainnya, dan umumnya dikeluarkan.

Reliabilitas menanyakan apakah alat ukur memberikan hasil yang konsisten. Ukuran yang paling umum adalah koefisien Cronbach alpha, yang menilai konsistensi internal antarbutir dalam satu variabel.

Urutan pengerjaannya penting: uji validitas dulu, keluarkan butir yang gugur, baru hitung ulang reliabilitas dengan butir yang tersisa. Menghitung reliabilitas dengan menyertakan butir yang sudah dinyatakan gugur adalah kesalahan yang sering ditemukan penguji.

Satu hal yang perlu diluruskan: nilai Cronbach alpha yang sangat tinggi tidak selalu kabar baik. Nilai yang mendekati sempurna kerap menandakan butir-butir Anda pada dasarnya menanyakan hal yang sama dengan kalimat berbeda, bukan bahwa alat ukur Anda sangat baik.

Berapa responden yang dibutuhkan untuk uji coba instrumen?

Uji validitas dan reliabilitas umumnya dijalankan pada tahap uji coba instrumen sebelum pengambilan data sesungguhnya, dengan responden yang memiliki ciri serupa tetapi tidak termasuk sampel penelitian. Banyak pedoman kampus di Indonesia memakai patokan praktis 30 responden untuk tahap ini, tetapi angka ini adalah kebiasaan, bukan ketentuan nasional, jadi periksa pedoman fakultas Anda.

Untuk penentuan ukuran sampel penelitian utamanya, panduan cara menentukan jumlah sampel skripsi membahas rumus yang sesuai untuk tiap desain penelitian.

Di mana Tesify berdiri, dan di mana tidak

Agar perbandingan ini jujur, batasnya perlu dinyatakan: Tesify tidak menggantikan perangkat lunak statistik. Tesify tidak menghitung Cronbach alpha, tidak menjalankan uji korelasi, dan tidak mengolah data kuesioner Anda. Untuk itu, tetap gunakan salah satu dari empat perangkat di atas.

Yang dikerjakan Tesify adalah bagian sesudahnya, yaitu menyusun tulisannya: menjelaskan prosedur uji instrumen di bab tiga, menarasikan hasil uji di bab empat, dan menjaga agar penyebutan metode konsisten dari bab tiga ke bab empat. Bagian inilah yang paling sering dikembalikan pembimbing meskipun angkanya sudah benar.

Anda tetap penulis dan penanggung jawab seluruh isinya, termasuk angka dan penafsirannya.

Susun bab metodologi dan pembahasan Anda di Tesify

Menentukan pendekatan sebelum memilih perangkat

Perlu diingat, seluruh pembahasan ini hanya berlaku bila penelitian Anda kuantitatif. Penelitian kualitatif tidak memerlukan uji validitas butir maupun Cronbach alpha, melainkan memakai cara lain untuk menjaga keabsahan data. Bila Anda belum yakin, tentukan dulu melalui panduan memilih metode kualitatif atau kuantitatif, dan pahami perbedaan tuntutan tiap jenjang pada artikel perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah hasil SPSS dan JASP bisa berbeda?

Untuk uji yang sama dengan data yang sama, hasilnya seharusnya sama karena rumusnya sama. Perbedaan kecil pada angka desimal dapat terjadi karena pembulatan atau pengaturan bawaan yang berbeda. Bila muncul perbedaan besar, penyebabnya hampir selalu ada pada data atau pengaturan uji, bukan pada perangkatnya.

Berapa nilai Cronbach alpha yang dianggap memadai?

Patokan yang paling sering dipakai di kalangan akademik adalah 0,70 sebagai batas bawah yang dapat diterima. Batas ini adalah kelaziman keilmuan, bukan ketentuan resmi, dan sebagian bidang memakai patokan berbeda. Sebutkan sumber rujukan yang Anda pakai untuk batas tersebut di bab tiga.

Bagaimana bila banyak butir yang gugur pada uji validitas?

Bila lebih dari sepertiga butir gugur, masalahnya biasanya bukan pada responden melainkan pada penyusunan kuesioner: butir yang bermakna ganda, kalimat yang terlalu panjang, atau indikator yang tidak diturunkan dengan benar dari teori. Perbaiki kuesionernya, lalu uji coba ulang. Membiarkan variabel hanya tersisa dua butir akan menjadi pertanyaan saat sidang.

Apakah uji validitas dan reliabilitas wajib untuk semua skripsi kuantitatif?

Wajib bila Anda memakai kuesioner sebagai alat ukur. Bila Anda memakai data sekunder seperti laporan keuangan atau statistik resmi, kedua uji ini tidak berlaku karena Anda tidak sedang mengukur konstruk dengan instrumen buatan sendiri.

Apakah instrumen yang sudah baku tetap harus diuji ulang?

Sebaiknya iya, terutama bila Anda menerjemahkan atau menyesuaikan redaksinya. Hasil pengujian pada versi asli tidak otomatis berlaku pada versi yang telah diubah atau diterapkan pada kelompok responden yang berbeda.

Bolehkah memakai layanan olah data berbayar?

Ini keputusan yang harus Anda pertimbangkan sendiri dengan hati-hati. Persoalannya bukan pada angkanya, melainkan pada kemampuan Anda menjelaskan prosedur dan menafsirkan hasilnya saat sidang. Penguji lazim menanyakan mengapa suatu uji dipilih dan apa arti angkanya. Bila Anda tidak dapat menjawab, hasil yang benar sekalipun tidak akan menolong.

Apakah JASP bisa membuka berkas SPSS?

JASP dapat membaca berkas data dalam beberapa format umum, termasuk format yang lazim dipakai untuk pertukaran data statistik. Cara paling aman bila Anda berpindah perangkat adalah menyimpan data dalam format CSV, yang dapat dibaca oleh keempat perangkat dalam artikel ini.

Apakah uji normalitas juga perlu dilakukan?

Umumnya ya, bila Anda akan memakai uji statistik yang mensyaratkan sebaran normal seperti regresi linear. Uji normalitas termasuk bagian dari uji asumsi klasik, dan keempat perangkat dalam artikel ini menyediakannya, meskipun pada Excel prosesnya paling merepotkan.

Apakah tangkapan layar keluaran perlu dilampirkan di skripsi?

Sebagian besar pedoman fakultas meminta keluaran analisis dilampirkan sebagai bukti, sementara bagian pembahasan memuat tabel yang sudah disusun ulang secara rapi. Periksa pedoman kampus Anda mengenai apakah lampiran berupa tangkapan layar diperbolehkan atau harus diketik ulang.

Mana yang sebaiknya dipelajari lebih dulu bila saya belum menguasai keduanya?

Mulai dari perangkat yang tersedia bagi Anda hari ini. Waktu yang dihabiskan mencari lisensi perangkat yang tidak Anda miliki lebih baik dipakai untuk mengolah data dengan perangkat yang sudah ada di tangan.