Tiga desain menguasai skripsi pendidikan di Indonesia: penelitian tindakan kelas (PTK), eksperimen atau kuasi-eksperimen, dan penelitian pengembangan (R&D). Ketiganya menjawab pertanyaan yang berbeda, menuntut akses yang berbeda, dan gagal dengan cara yang berbeda. Tabel berikut membandingkannya pada delapan kriteria yang benar-benar menentukan apakah skripsi Anda selesai dalam satu semester, lalu artikel ini memberi peringkat per kriteria dan satu rekomendasi untuk tiap kondisi mahasiswa.
| Kriteria | PTK | Eksperimen / kuasi-eksperimen | Penelitian pengembangan (R&D) |
|---|---|---|---|
| Pertanyaan yang dijawab | Apakah tindakan X memperbaiki proses dan hasil belajar di kelas ini? | Apakah perlakuan X berpengaruh terhadap Y dibanding kelompok pembanding? | Apakah produk X valid, praktis, dan efektif untuk dipakai? |
| Akses yang dibutuhkan | Satu kelas dan guru mitra yang bersedia berkolaborasi selama beberapa minggu | Dua kelas setara (atau satu kelas dengan pretes-postes) dan izin sekolah | Ahli materi dan ahli media untuk validasi, satu kelas untuk uji coba |
| Lama pengambilan data | 2 sampai 3 siklus, masing-masing 2 sampai 4 pertemuan (4 sampai 8 minggu) | 1 kompetensi dasar, biasanya 4 sampai 8 pertemuan (3 sampai 6 minggu) | Pengembangan produk 4 sampai 8 minggu, validasi 1 sampai 2 minggu, uji coba 2 sampai 4 minggu |
| Instrumen wajib | Lembar observasi guru dan siswa, tes tiap siklus, catatan lapangan | Tes hasil belajar yang diuji validitas dan reliabilitasnya, lembar keterlaksanaan | Lembar validasi ahli, angket kepraktisan guru dan siswa, tes keefektifan |
| Produk akhir | Laporan perbaikan praktik di kelas tersebut | Bukti pengaruh perlakuan | Produk fisik atau digital (modul, media, LKPD, e-modul, aplikasi) beserta bukti kelayakannya |
| Ancaman validitas utama | Peneliti menilai tindakannya sendiri; siklus dihentikan terlalu dini | Kelas tidak setara, kebocoran perlakuan, soal pretes dan postes identik | Validator tidak independen, uji coba terlalu kecil, keefektifan tidak diuji |
| Model rujukan | Kemmis dan McTaggart (spiral), Arikunto, Suhardjono, dan Supardi | Campbell dan Stanley (1963), Creswell (Educational Research) | ADDIE (Branch, 2009), 4-D (Thiagarajan, 1974), Borg dan Gall (1983), Sugiyono |
| Cocok untuk | Mahasiswa yang mengajar atau punya guru mitra, prodi PGSD dan pendidikan bidang studi | Mahasiswa dengan akses dua kelas dan pembimbing yang menuntut uji inferensial | Mahasiswa teknologi pendidikan, pendidikan bidang studi yang ingin membuat media, atau yang aksesnya ke kelas terbatas |
Pertanyaan dari mana desain itu diturunkan, yaitu apakah rumusan masalah Anda bertanya “memperbaiki”, “berpengaruh”, atau “mengembangkan”, dibahas pada artikel metode kualitatif atau kuantitatif untuk skripsi. Artikel ini mengambil alih setelah Anda tahu bahwa skripsinya kuantitatif atau campuran dan pilihan tinggal di antara tiga desain ini.
Peringkat per kriteria dan alasannya
Tidak ada desain yang unggul di semua kriteria, jadi peringkat di bawah dibuat per kriteria, dengan alasan yang bisa Anda bantah sendiri.
Kecepatan selesai: eksperimen, lalu PTK, lalu R&D
Eksperimen paling cepat karena pengambilan datanya satu kompetensi dasar dan analisisnya sudah baku. PTK memakan waktu lebih lama karena siklus kedua baru bisa direncanakan setelah refleksi siklus pertama, dan siklus ketiga sering diminta pembimbing bila peningkatan siklus kedua tipis. R&D paling lama karena ada tiga tahap berurutan (pengembangan, validasi, uji coba) yang masing-masing bisa tertunda oleh kesediaan validator.
Ketergantungan pada akses: R&D paling ringan, eksperimen paling berat
R&D dapat dikerjakan sebagian besar di meja: produk dibuat sendiri, validasi dilakukan oleh dosen atau guru ahli, dan uji coba cukup satu kelas kecil. Eksperimen menuntut dua kelas yang setara pada sekolah yang sama, yang berarti izin kepala sekolah, dua guru, dan jadwal yang sinkron; satu saja gagal, desainnya runtuh menjadi pra-eksperimen. PTK di tengah: hanya satu kelas, tetapi butuh kehadiran intensif selama beberapa minggu.
Kekuatan klaim: eksperimen, lalu R&D, lalu PTK
Eksperimen dengan kelas kontrol boleh menyimpulkan adanya pengaruh perlakuan. R&D boleh menyimpulkan produk valid, praktis, dan efektif pada uji coba, bila ketiganya memang diukur (Nieveen, 1999, adalah rujukan yang lazim untuk tiga kriteria itu). PTK hanya boleh menyimpulkan bahwa tindakan memperbaiki proses dan hasil di kelas tersebut, tanpa generalisasi; itu bukan kelemahan, melainkan batas yang harus ditulis di BAB V.
Risiko pada sidang: PTK paling sering diserang di metodologi, R&D di keefektifan
Pertanyaan penguji yang paling sering menjatuhkan PTK adalah “siapa yang mengamati Anda mengajar” dan “mengapa berhenti di siklus dua”. Pada R&D, pertanyaannya “validatornya siapa dan apa kualifikasinya” dan “mana bukti produk efektif, bukan hanya disukai”. Pada eksperimen, “bagaimana Anda memastikan dua kelas setara sebelum perlakuan”. Ketiganya bisa dijawab bila BAB III sudah menyiapkan buktinya.

Apa yang sebenarnya diminta pada tiap desain di BAB III?
PTK. Desain siklus (perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi) mengikuti spiral Kemmis dan McTaggart; subjek adalah siswa satu kelas; kolaborator (guru kelas atau teman sejawat) disebut namanya dan perannya sebagai pengamat; indikator keberhasilan ditetapkan sebelum siklus pertama, misalnya 80 persen siswa mencapai KKM dan skor aktivitas minimal kategori baik; instrumen meliputi lembar observasi guru dan siswa, tes akhir siklus, dan catatan lapangan. Analisisnya deskriptif per siklus; kapan uji inferensial diperlukan dan cara menghitung ketuntasan klasikal serta N-Gain sudah diuraikan pada artikel uji statistik untuk skripsi PTK PGSD, sehingga tidak diulang di sini.
Eksperimen dan kuasi-eksperimen. Sebutkan desain dengan namanya: nonequivalent control group design (dua kelas utuh, pretes-postes) adalah yang paling lazim di sekolah karena kelas tidak bisa diacak; one-group pretest-posttest design hanya pra-eksperimen dan sebaiknya dihindari bila ada dua kelas. Tentukan variabel bebas (model atau media pembelajaran), variabel terikat (hasil belajar, keterampilan proses, motivasi), dan variabel kontrol (guru yang sama, alokasi waktu yang sama, materi yang sama). Instrumen tes wajib diuji coba pada kelas lain untuk validitas butir, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda; keterlaksanaan pembelajaran diamati dengan lembar observasi. Kesetaraan kelas dibuktikan dengan uji beda pada nilai pretes atau nilai ulangan sebelumnya. Jumlah siswa per kelas jarang bisa Anda pilih, tetapi tetap harus dibahas dengan mengacu pada panduan menentukan jumlah sampel skripsi.
R&D. Sebutkan model pengembangan yang dipakai dan ikuti tahapnya secara harfiah, karena penguji akan mencocokkan BAB III dengan model itu. Tetapkan produk (modul, LKPD, e-modul, media interaktif, aplikasi, video pembelajaran), spesifikasinya, dan tiga kriteria kelayakan: validitas (lembar validasi ahli materi dan ahli media, dianalisis dengan persentase atau V Aiken), kepraktisan (angket respons guru dan siswa setelah uji coba terbatas), dan keefektifan (tes hasil belajar sebelum dan sesudah pemakaian, atau perbandingan dengan kelas tanpa produk). Uji coba dilakukan bertingkat: perorangan (3 siswa), kelompok kecil (6 sampai 12 siswa), lapangan (satu kelas).
ADDIE, 4-D, atau Borg dan Gall: model R&D mana untuk skripsi S1?
Ketiga model ini yang paling sering muncul pada skripsi pendidikan Indonesia, dan perbedaannya bukan pada mutu, melainkan pada jumlah tahap yang harus Anda laporkan.
| Model | Tahap | Panjang untuk S1 | Kapan dipilih |
|---|---|---|---|
| ADDIE (Branch, 2009) | Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation | Paling ringkas; evaluasi formatif melekat di tiap tahap | Produk digital (e-modul, media interaktif, aplikasi) dan pembimbing yang menerima lima tahap |
| 4-D (Thiagarajan, Semmel, dan Semmel, 1974) | Define, Design, Develop, Disseminate | Ringkas; tahap Disseminate lazim dibatasi pada penyebaran terbatas untuk skripsi | Perangkat pembelajaran (RPP, LKPD, bahan ajar cetak) pada pendidikan bidang studi |
| Borg dan Gall (1983) | Sepuluh langkah dari penelitian pendahuluan sampai diseminasi | Terlalu panjang bila diikuti utuh; banyak skripsi membatasi sampai langkah ketujuh atau kesembilan dengan alasan yang ditulis | Pembimbing yang mewajibkannya, atau penelitian yang memang menuntut uji lapangan berlapis |
Dua aturan yang menyelamatkan banyak sidang. Pertama, bila Anda memotong tahap (misalnya 4-D tanpa Disseminate penuh, atau Borg dan Gall sampai langkah ketujuh), tulis pembatasan itu di BAB I dan BAB III dengan alasan waktu dan cakupan, bukan diam-diam. Kedua, jangan mencampur nama tahap dari dua model dalam satu bagan; penguji yang menguasai R&D akan langsung menangkapnya.
Rekomendasi berdasarkan kondisi Anda
- Anda sudah mengajar atau punya guru mitra di satu kelas, dan pembimbing tidak menuntut generalisasi: PTK. Tetapkan indikator keberhasilan dan pengamat sebelum siklus pertama, rencanakan tiga siklus meski berharap selesai di dua.
- Anda punya akses ke dua kelas paralel pada satu sekolah dengan guru yang sama: kuasi-eksperimen nonequivalent control group. Uji coba soal di kelas ketiga, buktikan kesetaraan kelas dengan pretes.
- Anda hanya punya akses ke satu kelas dan pembimbing menolak PTK: R&D dengan ADDIE atau 4-D, uji coba terbatas pada kelas itu, keefektifan diuji dengan pretes-postes satu kelompok yang dilaporkan sebagai bagian evaluasi produk, bukan sebagai eksperimen.
- Anda mahasiswa teknologi pendidikan atau ingin membuat media digital: R&D dengan ADDIE; pastikan ada ahli media di luar pembimbing Anda sebagai validator.
- Anda mahasiswa pendidikan bidang studi (matematika, IPA, bahasa) yang mengembangkan perangkat pembelajaran: R&D dengan 4-D; tahap Define diisi analisis kurikulum dan karakteristik siswa yang nyata, bukan salinan silabus.
- Semester tinggal satu dan akses sekolah belum pasti: R&D adalah yang paling mungkin selesai, karena tahap pengembangan dan validasi tidak bergantung pada jadwal sekolah.

Bagaimana menuliskan pilihan desain di BAB I dan BAB III?
Pilihan desain ditulis dua kali: satu kalimat di BAB I setelah rumusan masalah, dan satu paragraf pembuka di BAB III yang menyebut nama desain, model rujukan, dan alasan memilihnya. Tiga contoh yang bisa langsung diadaptasi:
PTK: “Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, dilaksanakan minimal dua siklus di kelas IV SD Negeri [nama] dengan guru kelas sebagai kolaborator dan pengamat. Desain ini dipilih karena tujuan penelitian adalah memperbaiki proses dan hasil belajar di kelas tersebut, bukan menggeneralisasi ke populasi.”
Kuasi-eksperimen: “Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen nonequivalent control group dengan dua kelas utuh, satu kelas eksperimen yang belajar dengan model [nama] dan satu kelas kontrol yang belajar dengan pembelajaran konvensional, masing-masing diberi pretes dan postes. Desain ini dipilih karena kelas tidak dapat diacak dan tujuan penelitian adalah menguji pengaruh model terhadap hasil belajar.”
R&D: “Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model ADDIE (Branch, 2009) yang menghasilkan e-modul [materi] untuk kelas VIII. Kelayakan produk dinilai dari validitas melalui penilaian ahli materi dan ahli media, kepraktisan melalui angket respons guru dan siswa pada uji coba terbatas, dan keefektifan melalui perbandingan hasil pretes dan postes pada uji coba lapangan.”
Perhatikan bahwa setiap contoh menyebut nama desain, model rujukan, subjek atau kelas, dan alasan pemilihan dalam satu napas. Paragraf seperti ini menjawab tiga pertanyaan penguji sekaligus sebelum mereka bertanya.
Kesalahan yang membuat desain dipertanyakan penguji
- Menyebut PTK tetapi memakai kelas kontrol dan uji t antar kelompok; itu eksperimen dengan nama yang salah.
- Menyebut eksperimen tetapi hanya satu kelas tanpa pembanding; sebut apa adanya sebagai pra-eksperimen atau ubah ke PTK.
- R&D yang berhenti pada validasi ahli tanpa uji coba, lalu menyimpulkan produk “layak digunakan”.
- Validator R&D adalah pembimbing sendiri, sehingga penilaian kelayakan tidak independen.
- Soal pretes dan postes identik pada eksperimen tanpa jeda yang memadai, sehingga peningkatan bisa berasal dari ingatan soal.
- Siklus PTK kedua direncanakan sebelum refleksi siklus pertama ditulis, sehingga tindakan perbaikan tidak berasal dari data.
Di mana Tesify membantu, dan di mana tidak
Tesify tidak bisa masuk kelas, mengamati siswa, atau memvalidasi produk Anda; ketiga desain di atas hidup dari data lapangan yang hanya bisa Anda kumpulkan. Yang bisa dibantu adalah bagian yang paling sering dikembalikan pembimbing: menyusun BAB III mengikuti tahap model yang Anda pilih dengan istilah yang konsisten, membuat kisi-kisi instrumen dan lembar validasi dari indikator yang Anda tetapkan, serta memeriksa bahwa rumusan masalah, desain, instrumen, dan analisis saling mengunci sebelum seminar proposal. Struktur proposal yang lolos seminar dan alasan proposal dikembalikan dibahas pada artikel cara lolos seminar proposal skripsi, dan perangkat untuk menguji validitas serta reliabilitas instrumen dibandingkan pada SPSS vs JASP untuk uji validitas dan reliabilitas. Susun BAB III skripsi pendidikan Anda di Tesify, gratis untuk bab pertama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah PTK boleh dilakukan mahasiswa yang bukan guru kelas?
Boleh, dengan guru kelas sebagai kolaborator dan pengamat. Sebutkan pembagian perannya di BAB III: siapa mengajar, siapa mengamati, dan siapa menilai.
Bolehkah kuasi-eksperimen memakai satu kelas saja?
Satu kelas dengan pretes-postes adalah pra-eksperimen, bukan kuasi-eksperimen. Sebut dengan nama yang benar dan akui keterbatasannya, atau cari kelas pembanding.
Berapa validator yang dibutuhkan pada R&D?
Lazimnya minimal dua: satu ahli materi dan satu ahli media atau desain pembelajaran, ditambah praktisi (guru) bila memungkinkan. Sebutkan kualifikasi masing-masing.
Apakah R&D wajib sampai uji keefektifan?
Bergantung pada pedoman prodi. Banyak prodi menerima validitas dan kepraktisan untuk S1, tetapi klaim “efektif” hanya boleh ditulis bila keefektifan memang diuji.
Model R&D mana yang paling mudah dipertanggungjawabkan?
ADDIE dan 4-D, karena tahapnya sedikit dan jelas. Borg dan Gall lebih panjang dan hampir selalu dipotong pada skripsi S1, sehingga pemotongannya harus dijelaskan.
Bolehkah PTK dihentikan setelah satu siklus?
Sebaiknya tidak, karena siklus kedua adalah bukti bahwa perbaikan berasal dari refleksi. Sebagian prodi mensyaratkan minimal dua siklus.
Apakah eksperimen di sekolah memerlukan izin etik?
Umumnya cukup izin sekolah dan dinas pendidikan setempat serta persetujuan orang tua bila siswa masih di bawah umur, tetapi periksa pedoman kampus; sebagian universitas kini mensyaratkan telaah etik.
Bisakah PTK digabung dengan R&D?
Bisa, tetapi tidak disarankan untuk S1 karena tahapnya berlipat. Bila produk sudah ada dan Anda ingin memperbaiki pemakaiannya di kelas, PTK saja; bila produknya belum ada, R&D saja.
Berapa siswa untuk uji coba produk R&D?
Uji perorangan 3 siswa, kelompok kecil 6 sampai 12 siswa, uji lapangan satu kelas (sekitar 25 sampai 35 siswa). Sebutkan alasan bila salah satu tingkat dilewati.
Desain mana yang paling cepat selesai?
Eksperimen, bila dua kelas dan izin sudah di tangan. Bila akses belum pasti, R&D lebih aman karena sebagian besar tahapnya tidak bergantung pada jadwal sekolah.
