Cara Memilih dan Melaporkan Kuesioner Kepatuhan Minum Obat untuk Skripsi Farmasi (2026)

Kepatuhan minum obat (medication adherence) adalah variabel yang sering diteliti skripsi farmasi, terutama pada pasien penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau tuberkulosis. Instrumen yang dipakai untuk mengukurnya menentukan apakah data Anda bisa dipertanggungjawabkan di sidang — dan salah satu instrumen paling terkenal, Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), ternyata berbayar dan berlisensi, bukan kuesioner bebas pakai seperti yang sering diasumsikan mahasiswa. Panduan ini menjelaskan langkah memilih, mengurus izin, mengadaptasi, dan melaporkan instrumen kepatuhan obat untuk skripsi farmasi tanpa terjebak masalah lisensi di tengah jalan.

Langkah 1: Pastikan skripsi Anda memang mengukur kepatuhan sebagai variabel utuh

Sebelum memilih instrumen, pastikan kepatuhan benar-benar menjadi variabel yang diukur dengan instrumen terstandar, bukan sekadar disebut sepintas di latar belakang. Skripsi yang mengukur kepatuhan biasanya berbentuk salah satu dari tiga desain berikut, dan masing-masing memengaruhi instrumen mana yang relevan.

  • Deskriptif — menggambarkan tingkat kepatuhan pasien pada satu populasi, memakai satu instrumen kepatuhan sebagai alat ukur tunggal.
  • Korelasional — menghubungkan kepatuhan dengan variabel lain (pengetahuan, dukungan keluarga, efek samping obat), memakai instrumen kepatuhan plus instrumen kedua.
  • Kuasi-eksperimen — menguji efektivitas intervensi (konseling farmasis, pengingat digital) terhadap kepatuhan, memakai instrumen kepatuhan sebagai pengukuran pra-pasca.

Langkah 2: Kenali pilihan instrumen kepatuhan yang lazim dipakai skripsi farmasi Indonesia

Beberapa instrumen kepatuhan obat yang paling sering dirujuk literatur farmasi, beserta status ketersediaannya.

Instrumen Jumlah item Status penggunaan
Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) 8 item Berbayar dan berlisensi — wajib izin tertulis dari pemegang hak cipta sebelum dipakai
Morisky Medication Adherence Scale versi lama (MMAS-4/MMAS-6) 4–6 item Juga berlisensi di bawah pemegang hak cipta yang sama, meski kadang beredar versi tidak resmi tanpa izin
Kuesioner kepatuhan yang dikembangkan dan divalidasi oleh peneliti Indonesia sendiri (mis. di jurnal farmasi nasional) Bervariasi Bebas dipakai dengan mengutip sumber, tetapi validitas-reliabilitasnya perlu diverifikasi ulang pada populasi Anda bila konteksnya berbeda
Pill count / catatan pengambilan obat di rekam medis (refill record) Bukan kuesioner Data objektif, bebas dipakai bila akses rekam medis diberi izin institusi, tetapi tidak menangkap alasan ketidakpatuhan

Yang wajib diketahui sebelum menulis proposal: MMAS-8 dan versi-versi Morisky sebelumnya adalah instrumen berhak cipta. Permintaan lisensi diajukan langsung ke pemegang hak (melalui situs resmi penerbit lisensi Morisky Scale), dan biaya lisensinya jauh dari gratis — sejumlah jurnal internasional bahkan menerbitkan ralat (corrigendum) untuk artikel yang memakai MMAS-8 tanpa lisensi resmi. Banyak mahasiswa Indonesia terlanjur memakai MMAS-8 dari skripsi terdahulu tanpa menyadari status lisensinya; ini risiko yang harus disampaikan ke pembimbing sejak proposal, bukan ditemukan saat sidang.

Mahasiswa farmasi membandingkan dua kuesioner kepatuhan obat dengan strip obat dan kalender minum obat di meja
Bandingkan status lisensi setiap instrumen sebelum menuliskannya di proposal — bukan sesudah kuesioner disebar.

Langkah 3: Bila memilih MMAS-8, urus lisensinya sebelum menyebar kuesioner

Bila MMAS-8 dinilai paling sesuai untuk penelitian Anda (misalnya karena ingin membandingkan hasil dengan banyak studi terdahulu yang memakainya), langkah yang harus ditempuh:

  1. Hubungi pemegang lisensi resmi Morisky Scale melalui kontak yang tercantum di situs resminya, sebutkan tujuan penelitian akademik dan skala penelitian (skripsi S1, jumlah responden perkiraan).
  2. Tanyakan biaya lisensi untuk penggunaan akademik/mahasiswa — beberapa pemegang lisensi memberi kebijakan berbeda untuk penelitian mahasiswa dibanding penelitian komersial, tetapi ini harus dikonfirmasi langsung, bukan diasumsikan gratis.
  3. Simpan bukti korespondensi dan surat izin resmi — banyak KEPK dan jurnal kini meminta bukti lisensi sebagai lampiran, terutama untuk mencegah kasus penarikan artikel akibat penggunaan tanpa izin.
  4. Diskusikan anggaran ini dengan pembimbing di awal, karena biaya lisensi bisa menjadi kendala nyata untuk skripsi S1 yang umumnya tidak memiliki dana penelitian besar.

Bila biaya atau proses lisensi tidak memungkinkan, opsi yang lebih realistis untuk skripsi S1 adalah memakai instrumen kepatuhan yang sudah dikembangkan dan dipublikasikan bebas oleh peneliti Indonesia di jurnal farmasi nasional terakreditasi, dengan tetap menguji ulang validitas-reliabilitasnya pada populasi penelitian Anda sendiri.

Langkah 4: Adaptasi dan uji validitas-reliabilitas instrumen ke populasi Anda

Instrumen apa pun yang dipilih — baik instrumen berlisensi yang sudah diberi izin maupun instrumen bebas pakai — tetap harus diuji ulang pada populasi penelitian Anda, bukan sekadar dipakai apa adanya karena “sudah baku di penelitian lain”.

  • Uji validitas isi — minta pendapat ahli (dosen farmasi klinik atau farmasis senior) apakah item-item kuesioner relevan dengan konteks penyakit dan populasi Anda.
  • Uji keterbacaan — ujicobakan ke 10–20 responden di luar sampel penelitian untuk memastikan bahasa kuesioner dipahami sesuai tingkat pendidikan populasi target.
  • Uji reliabilitas — hitung koefisien Alpha Cronbach dari hasil uji coba; instrumen kepatuhan biasanya dianggap cukup reliabel di atas 0,6–0,7, tetapi cek standar yang dipakai program studi Anda.

Pertimbangkan pula kekhususan penyakit yang Anda teliti. Kepatuhan pada terapi tuberkulosis, misalnya, sering diukur dengan pendekatan berbeda karena regimen pengobatannya panjang (6–8 bulan) dan melibatkan pengawasan minum obat (PMO) sebagai bagian dari programnya — instrumen kepatuhan untuk populasi ini idealnya menangkap juga peran pengawas minum obat, bukan hanya perilaku pasien sendiri. Kepatuhan pada hipertensi atau diabetes yang bersifat seumur hidup lebih menonjolkan aspek kelupaan rutin dan efek samping jangka panjang. Sesuaikan pilihan atau adaptasi item kuesioner dengan karakteristik regimen terapi penyakit yang Anda teliti, bukan memakai instrumen generik tanpa penyesuaian konteks.

Langkah 5: Tentukan cut-off score dan kategori kepatuhan sebelum pengambilan data

Kesalahan yang sering ditemukan: kategori kepatuhan (patuh/tidak patuh, atau tinggi/sedang/rendah) ditentukan setelah data terkumpul, sehingga terkesan disesuaikan supaya hasilnya “cocok”. Tentukan skema skor dan titik potongnya di proposal, sebelum data diambil, dan cantumkan sumbernya (instrumen aslinya atau penelitian terdahulu yang memakai skema serupa pada populasi sejenis).

Lembar skor kepatuhan obat dengan kategori patuh dan tidak patuh serta kalkulator di meja penelitian farmasi
Titik potong kategori kepatuhan ditetapkan di proposal, bukan disesuaikan setelah melihat hasil.

Langkah 6: Hitung jumlah sampel dan pilih cara menyebarkan kuesioner

Penelitian kepatuhan obat biasanya berdesain deskriptif atau korelasional dengan populasi pasien penyakit kronis di satu fasilitas kesehatan, sehingga rumus jumlah sampel populasi terbatas (bukan power analysis eksperimen) yang lazim dipakai. Cara menghitungnya dengan rumus Slovin atau tabel Krejcie-Morgan dijelaskan lengkap pada panduan cara menentukan jumlah sampel skripsi. Setelah jumlah sampel ditetapkan, tentukan cara penyebaran kuesionernya:

  • Tatap muka di fasilitas kesehatan — paling umum untuk penelitian kepatuhan karena responden biasanya pasien lanjut usia yang lebih nyaman diwawancara langsung, dan peneliti bisa memastikan kuesioner terisi lengkap saat itu juga.
  • Kuesioner daring — cocok untuk populasi yang melek digital (misalnya pasien usia produktif), lebih hemat waktu, tetapi berisiko respons rate rendah pada populasi lansia. Perbandingan platform kuesioner daring yang biasa dipakai mahasiswa Indonesia ada pada aplikasi kuesioner online untuk skripsi.
  • Kombinasi keduanya — tatap muka untuk responden lanjut usia atau yang kesulitan mengakses internet, daring untuk sisanya, dengan mencatat metode pengisian sebagai bagian dari karakteristik responden.

Langkah 7: Melaporkan instrumen kepatuhan di BAB III dan BAB IV

Paragraf instrumen di BAB III skripsi farmasi idealnya memuat lima unsur: nama instrumen dan sumbernya, jumlah dan bentuk item, hasil uji validitas-reliabilitas pada populasi Anda, skema skor dan kategori, serta status izin pemakaian (bila instrumen berlisensi). Di BAB IV, laporkan distribusi skor kepatuhan responden dalam tabel frekuensi per kategori, disertai interpretasi naratif — bukan hanya angka mentah tanpa penjelasan apa artinya bagi praktik farmasi.

Langkah 8: Perhatikan pertimbangan etik saat mewawancarai pasien penyakit kronis

Penelitian kepatuhan obat melibatkan kontak langsung dengan pasien dan menyentuh topik yang bisa terasa sensitif — mengaku tidak patuh minum obat kadang membuat responden merasa dinilai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan di subbab etika BAB III:

  • Jelaskan bahwa jawaban tidak memengaruhi pelayanan yang akan diterima responden di fasilitas kesehatan tempat penelitian dilakukan — kekhawatiran ini sering menjadi alasan tersembunyi jawaban yang terlalu positif.
  • Jaga kerahasiaan jawaban individual, terutama bila penelitian dilakukan di fasilitas kesehatan tempat responden rutin berobat dan mungkin dikenal staf.
  • Pertimbangkan kondisi fisik responden — pasien lanjut usia atau yang sedang tidak fit sebaiknya diberi waktu istirahat, dan wawancara dijadwalkan tidak mengganggu waktu kontrol atau pengambilan obat mereka.

Skripsi yang melibatkan pasien di fasilitas kesehatan tetap memerlukan persetujuan etik institusi sebelum pengambilan data — prinsip dan dokumen yang diperlukan pada dasarnya sama dengan yang berlaku untuk penelitian kesehatan lain, meski istilah komitenya bisa berbeda antar-fakultas farmasi dan rumah sakit.

Langkah 9: Sebutkan keterbatasan pengukuran kepatuhan berbasis self-report

Hampir semua kuesioner kepatuhan bersifat laporan-diri (self-report), yang punya keterbatasan bawaan: responden cenderung melaporkan kepatuhan lebih tinggi dari kenyataan (social desirability bias). Sebutkan keterbatasan ini secara eksplisit di BAB V, dan bila memungkinkan, perkuat dengan data objektif pendamping seperti catatan pengambilan obat dari apotek atau hasil pemeriksaan klinis terkait (misalnya kadar HbA1c untuk kepatuhan obat diabetes), meski itu bukan syarat wajib untuk skripsi S1. Menyusun BAB III yang konsisten antara desain penelitian, instrumen, dan rencana analisis membantu menghindari revisi berulang; lihat juga contoh struktur BAB III yang mencantumkan subbab instrumen dan etika penelitian untuk pola penyusunan yang berlaku lintas rumpun kesehatan.

Menyusun proposal dan BAB III yang konsisten sejak awal — termasuk mencantumkan status lisensi instrumen secara jujur — mempercepat proses bimbingan dan menghindari revisi besar menjelang sidang. Tesify membantu menyusun draf proposal dan BAB III skripsi farmasi agar deskripsi instrumen, hasil uji validitas-reliabilitas, dan rencana analisis tetap sejalan dari bab satu sampai bab lima — mahasiswa tetap yang memilih instrumen dan bertanggung jawab mengurus izin pemakaiannya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah MMAS-8 benar-benar berbayar untuk penelitian mahasiswa?

Ya. MMAS-8 dan versi Morisky lainnya adalah instrumen berhak cipta yang memerlukan lisensi tertulis dari pemegang haknya, terlepas dari apakah penggunanya mahasiswa atau peneliti profesional. Biayanya harus dikonfirmasi langsung ke pemegang lisensi.

Apa risikonya bila memakai MMAS-8 tanpa lisensi resmi?

Beberapa jurnal telah menerbitkan ralat atau bahkan menarik artikel yang memakai MMAS-8 tanpa izin resmi. Untuk skripsi, risikonya berupa temuan penguji atau kewajiban revisi bila status lisensi dipertanyakan, dan menyulitkan bila naskah nanti dikonversi menjadi artikel jurnal.

Adakah instrumen kepatuhan obat yang bebas dipakai tanpa lisensi?

Ada beberapa instrumen kepatuhan yang dikembangkan dan divalidasi oleh peneliti Indonesia sendiri di jurnal farmasi nasional, umumnya bebas dipakai dengan mengutip sumbernya, tetapi tetap perlu diuji ulang validitas-reliabilitasnya pada populasi penelitian Anda.

Apakah pill count bisa menggantikan kuesioner kepatuhan sepenuhnya?

Bisa sebagai data pendamping yang lebih objektif, tetapi tidak menangkap alasan di balik ketidakpatuhan (lupa, efek samping, biaya) yang biasanya justru menjadi fokus pembahasan skripsi farmasi. Kombinasi keduanya lebih kuat daripada memakai satu metode saja.

Berapa jumlah responden uji coba yang wajar sebelum pengambilan data utama?

Umumnya 10–20 responden di luar sampel penelitian sudah cukup untuk uji keterbacaan dan estimasi awal reliabilitas, tetapi konfirmasikan jumlah minimum yang disyaratkan program studi Anda.

Apakah kategori kepatuhan (patuh/tidak patuh) harus sama persis dengan instrumen aslinya?

Tidak harus identik, tetapi harus dijustifikasi dengan sumber (instrumen asli atau penelitian terdahulu pada populasi sejenis) dan ditetapkan sebelum data diambil, bukan disesuaikan setelah melihat hasil.

Apakah instrumen kepatuhan perlu izin KEPK selain izin hak cipta?

Ya, keduanya berbeda. Izin hak cipta dari pemegang lisensi instrumen mengatur legalitas pemakaian kuesionernya, sementara persetujuan etik dari KEPK institusi mengatur kelayakan etik penelitian terhadap subjek manusia secara keseluruhan.

Apakah boleh menggabungkan dua instrumen kepatuhan sekaligus dalam satu penelitian?

Boleh, misalnya memakai kuesioner self-report sebagai data utama dan pill count sebagai data pendamping, asalkan keduanya dijelaskan terpisah di BAB III dan analisis datanya tidak mencampuradukkan skor dari dua instrumen yang berbeda skala pengukurannya.

Apakah wawancara terstruktur bisa menggantikan kuesioner tertulis untuk pasien lanjut usia?

Bisa, dan justru sering lebih disarankan untuk populasi lansia atau yang kesulitan membaca. Pastikan pewawancara membacakan item persis sesuai kuesioner tanpa menambah penjelasan yang bisa mengubah makna pertanyaan, dan catat bahwa data dikumpulkan lewat wawancara terpandu di bagian metode.

Apakah instrumen kepatuhan untuk tuberkulosis berbeda dengan hipertensi atau diabetes?

Idealnya ya, karena regimen dan konteks pengobatannya berbeda. Kepatuhan TB melibatkan pengawas minum obat sebagai bagian dari programnya, sementara kepatuhan penyakit kronis seumur hidup lebih berfokus pada rutinitas jangka panjang dan efek samping. Adaptasi item kuesioner sebaiknya mempertimbangkan perbedaan ini, bukan memakai satu instrumen generik untuk semua penyakit.

Ke mana sebaiknya bertanya bila status lisensi suatu instrumen tidak jelas?

Tanyakan langsung ke dosen pembimbing atau penerbit jurnal tempat instrumen tersebut pertama kali dipublikasikan. Jangan mengasumsikan sebuah kuesioner bebas dipakai hanya karena banyak ditemukan di skripsi-skripsi sebelumnya — praktik meniru penggunaan tanpa memeriksa ulang status lisensinya adalah salah satu penyebab utama masalah ini terus berulang di kalangan mahasiswa.