Bagaimana Gaya Bahasa dan Istilah Baku untuk Skripsi Keperawatan? Tata Bahasa Klinis yang Benar (2026)

Naskah skripsi keperawatan yang isinya sudah benar secara klinis kadang tetap dikembalikan pembimbing karena gaya bahasanya belum “berbunyi” seperti tulisan ilmiah keperawatan — terlalu banyak istilah sehari-hari, penyebutan pasien yang tidak konsisten, atau singkatan klinis yang tidak dijelaskan. Panduan ini memetakan konvensi gaya bahasa dan istilah baku yang dipakai naskah keperawatan ilmiah Indonesia: pilihan kata, konsistensi istilah, dan kesalahan register yang paling sering dicoret pembimbing.

Menyebut Subjek Penelitian: Pasien, Klien, atau Responden?

Tiga istilah ini tidak bisa dipakai bergantian sembarangan. “Pasien” dipakai ketika subjek sedang berada dalam konteks pelayanan klinis langsung (di rumah sakit, Puskesmas, dalam asuhan keperawatan). “Klien” lebih umum dipakai dalam konteks keperawatan komunitas atau kesehatan jiwa, menekankan hubungan yang lebih kolaboratif daripada hierarkis. “Responden” dipakai secara spesifik saat merujuk pada peran mereka sebagai sumber data penelitian (mengisi kuesioner, diwawancarai) — bukan peran klinisnya. Pola yang aman: di Bab I-II gunakan “pasien” atau “klien” sesuai konteks pelayanan yang dibahas, lalu di Bab III (metode) beralih konsisten ke “responden” atau “partisipan” begitu Anda membahas mereka sebagai subjek pengambilan data. Kesalahan paling umum: mencampur ketiganya dalam satu paragraf tanpa alasan yang jelas, membuat pembaca bingung apakah Anda sedang membahas peran klinis atau peran penelitian mereka.

Istilah Diagnosis dan Terminologi Baku Keperawatan

Keperawatan Indonesia mengacu pada standar terminologi baku yang disusun Tim Pokja DPP PPNI — SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), dan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) — untuk merumuskan diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan. Bila skripsi Anda menyusun asuhan keperawatan atau studi kasus, gunakan istilah diagnosis persis seperti yang tertulis di standar tersebut (“defisit pengetahuan”, bukan “kurang tahu”; “gangguan pola tidur”, bukan “susah tidur”) — pembimbing dan penguji langsung mengenali ketidaksesuaian istilah dengan standar baku ini sebagai tanda naskah belum disunting dengan cermat. Jangan menerjemahkan bebas istilah diagnosis dari sumber berbahasa Inggris tanpa mengecek padanan resminya di SDKI terlebih dahulu.

Dokumen studi kasus keperawatan dengan identitas pasien yang dikodekan menggunakan inisial
Kode inisial pasien harus konsisten dari Bab IV sampai lampiran, tidak berganti format di tengah naskah.

Kalimat Pasif dan Nada Ilmiah

Naskah keperawatan ilmiah Indonesia secara konvensi lebih banyak memakai kalimat pasif untuk bagian metode dan hasil (“data dikumpulkan menggunakan kuesioner”, bukan “peneliti mengumpulkan data menggunakan kuesioner”) — pola ini menekankan prosedur dan objektivitas, bukan peran peneliti sebagai pelaku. Di bagian pembahasan, kalimat aktif lebih boleh dipakai saat membandingkan temuan dengan penelitian terdahulu (“penelitian ini menemukan…”, “temuan ini mendukung…”), karena bagian ini memang menuntut interpretasi dan posisi argumentatif penulis. Hindari nada terlalu kasual (“ternyata”, “lumayan”, “cukup banyak”) yang lazim dalam tulisan populer tapi janggal di naskah ilmiah — ganti dengan kuantifikasi yang lebih presisi (“terdapat peningkatan sebesar…”, “mayoritas responden…”).

Singkatan dan Satuan Klinis

Setiap singkatan klinis (TD untuk tekanan darah, RR untuk respiratory rate/frekuensi napas, HR untuk heart rate/nadi, GCS untuk Glasgow Coma Scale) wajib didefinisikan lengkap pada penyebutan pertama di naskah, baru boleh disingkat setelahnya — sekalipun istilah itu terasa umum bagi mahasiswa keperawatan sendiri, penguji dari latar belakang berbeda (atau pembimbing dari fakultas lain saat sidang gabungan) mungkin tidak familiar. Satuan vital sign juga perlu konsisten: tekanan darah dalam mmHg, suhu dalam derajat Celsius, dan frekuensi napas/nadi dalam kali per menit — jangan berganti-ganti satuan antar bab tanpa alasan.

Kutipan Studi Kasus dan Anonimisasi

Saat mengutip data pasien dalam studi kasus (rekam asuhan keperawatan, catatan observasi), gaya penulisan baku menggunakan inisial atau kode (“Ny. S”, “Tn. A”, atau “Klien 1”, “Klien 2”) — bukan nama lengkap, bahkan bila pasien sudah memberi persetujuan, karena naskah skripsi akan diunggah ke repositori publik kampus. Format penulisan usia dan identitas lain juga perlu konsisten (“Ny. S, 45 tahun” bukan campuran “Ny. S (45)” di satu tempat dan “Ny. S usia 45 th” di tempat lain). Konsistensi kode identitas ini penting terutama bila studi kasus melibatkan lebih dari satu pasien — pastikan kode yang sama merujuk pasien yang sama di seluruh naskah, termasuk di lampiran.

Mahasiswa menyunting naskah skripsi keperawatan untuk konsistensi istilah dan register bahasa
Menyunting konsistensi istilah dan register bahasa sebelum naskah diserahkan ke pembimbing.

Kesalahan Register yang Paling Sering Dicoret

  • Mencampur istilah “pasien”, “klien”, dan “responden” tanpa pola yang konsisten sepanjang naskah.
  • Memakai istilah diagnosis yang tidak sesuai SDKI/SIKI/SLKI, atau menerjemahkan bebas dari sumber asing tanpa mengecek padanan resminya.
  • Singkatan klinis dipakai tanpa definisi lengkap pada penyebutan pertama.
  • Nada tulisan terlalu kasual (“ternyata”, “lumayan”) di bagian yang seharusnya formal dan presisi.
  • Kode identitas pasien pada studi kasus berubah-ubah format antarbagian naskah.
  • Kalimat aktif berlebihan di bagian metode, membuatnya terbaca seperti laporan kegiatan alih-alih prosedur ilmiah.

Penulisan Angka dan Data Numerik Klinis

Penulisan angka di naskah ilmiah keperawatan Indonesia mengikuti Ejaan yang Disempurnakan (EYD) edisi V: bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu kata ditulis dengan huruf (“sepuluh responden mengalami…”, “diukur tiga kali”), kecuali bila beberapa bilangan disebut berurutan; bilangan berupa angka di awal kalimat didahului kata seperti “sebanyak” atau “sejumlah” (“Sebanyak 45 responden…”), atau kalimatnya disusun ulang. Data numerik dalam tabel, hasil pengukuran klinis, dan statistik ditulis dengan angka (“TD 120/80 mmHg”, “p = 0,03”). Desimal memakai koma sesuai konvensi bahasa Indonesia (0,05 bukan 0.05) kecuali kampus Anda secara eksplisit mewajibkan format internasional untuk keperluan tertentu (misalnya naskah yang akan diterjemahkan untuk publikasi internasional) — cek pedoman penulisan karya ilmiah fakultas Anda karena beberapa kampus punya aturan berbeda soal ini. Konsistensi dalam satu naskah lebih penting daripada memilih salah satu konvensi — jangan mencampur koma dan titik desimal di bagian berbeda naskah yang sama.

Menghindari Bahasa yang Menstigma Pasien

Konvensi penulisan ilmiah keperawatan kontemporer juga menghindari bahasa yang berpotensi menstigma kondisi pasien. Gunakan “pasien dengan skizofrenia” bukan “pasien skizofrenia” (person-first language, menempatkan orangnya sebelum kondisinya), hindari istilah usang atau merendahkan untuk kondisi kesehatan jiwa maupun disabilitas, dan hindari kata yang menyiratkan penilaian moral terhadap kondisi pasien (misalnya menghindari kata “gagal” untuk pasien yang tidak patuh terapi — gunakan “tingkat kepatuhan rendah” yang lebih netral dan deskriptif). Konvensi ini bukan sekadar soal kesopanan, tapi bagian dari akurasi ilmiah — bahasa yang menstigma sering kali juga menyederhanakan kompleksitas klinis yang sebenarnya sedang Anda teliti.

Contoh Perbaikan Kalimat

Versi yang perlu diperbaiki Versi yang lebih sesuai register ilmiah keperawatan
Peneliti nanya-nanya pasien soal keluhannya. Data keluhan pasien dikumpulkan melalui wawancara terstruktur.
Pasiennya kurang tahu soal penyakitnya. Klien mengalami defisit pengetahuan terkait kondisi penyakitnya.
Hasilnya lumayan bagus, ada peningkatan dikit. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata setelah intervensi, dilaporkan dengan nilai rata-rata, simpangan baku, dan nilai p.
TD-nya 120/80, RR 20, nadinya normal aja. Tekanan darah (TD) 120/80 mmHg, frekuensi napas (RR) 20 kali/menit, dan nadi dalam batas normal.

Register Bahasa di Setiap Bab

Konvensi register berbeda sedikit antarbab. Bab I (Pendahuluan) memakai nada persuasif-argumentatif untuk membangun urgensi masalah, masih boleh memakai kalimat yang relatif hidup selama tetap formal. Bab II (Tinjauan Pustaka) memakai nada eksplanatif-sintesis, merujuk sumber secara konsisten dan menghindari opini pribadi tanpa dasar pustaka. Bab III (Metode) memakai nada prosedural-pasif seperti dibahas di atas — setiap langkah dijelaskan sebagai prosedur yang bisa direplikasi, bukan narasi pengalaman peneliti. Bab IV (Hasil) memakai nada deskriptif-netral, melaporkan temuan tanpa interpretasi (interpretasi ditunda ke Bab V). Bab V (Pembahasan) baru memakai nada argumentatif-interpretatif, membandingkan temuan dengan teori dan penelitian terdahulu. Pergeseran register antarbab ini sering diabaikan mahasiswa yang menulis seluruh naskah dengan satu nada yang sama, padahal pembimbing menilai kemampuan menyesuaikan register sebagai bagian dari kematangan menulis ilmiah.

Detail teknis penulisan Bab III yang konsisten dengan register prosedural ini — termasuk cara menuliskan desain, populasi, instrumen, dan etik penelitian keperawatan — dibahas lengkap di panduan menulis BAB III skripsi keperawatan.

Konsistensi Istilah Instrumen Baku

Saat menyebut instrumen pengukuran baku (skala nyeri, indeks Barthel, skala Braden, dan sejenisnya), gunakan nama resmi instrumen tersebut persis seperti yang tertulis di sumber aslinya, bukan singkatan informal yang berbeda-beda di tiap bagian naskah — misalnya konsisten menulis “Indeks Barthel” di seluruh naskah, bukan kadang “Barthel Index”, kadang “indeks barthel” tanpa kapitalisasi yang konsisten. Daftar instrumen baku yang lazim dipakai skripsi keperawatan Indonesia beserta nama resminya dibahas di panduan instrumen baku skripsi keperawatan — jadikan penulisan nama instrumen di sana sebagai acuan konsistensi ejaan.

Konsistensi Format Kutipan dan Istilah Asing

Istilah teknis berbahasa asing yang belum punya padanan resmi (misalnya nama uji statistik, nama instrumen internasional) ditulis miring pada penyebutan pertama, lalu boleh ditulis tegak setelahnya bila sudah dianggap istilah baku dalam konteks keperawatan Indonesia. Format kutipan sumber yang menyertai istilah teknis ini mengikuti aturan APA yang sama dengan bagian naskah lain — aturan lengkap penulisan kutipan dan daftar pustaka dibahas di panduan membuat daftar pustaka APA. Konsistensi format kutipan ini penting karena pembimbing sering memeriksa kerapian sitasi sebagai indikator ketelitian keseluruhan naskah, bukan hanya sebagai formalitas administratif. Kesalahan kecil seperti mencampur gaya penulisan judul jurnal (kadang miring, kadang tidak) atau inkonsistensi tanda baca antar entri daftar pustaka sering luput dari perhatian penulis sendiri, tapi langsung terlihat oleh pembimbing yang sudah terbiasa memeriksa ratusan naskah dengan pola kesalahan serupa.

Menyunting Konsistensi Istilah Lebih Cepat

Tesify membantu menyusun draf naskah dengan konsistensi istilah dan register yang Anda tentukan sendiri berdasarkan standar SDKI/SIKI/SLKI dan konvensi yang Anda rujuk. Anda tetap yang memutuskan istilah diagnosis yang dipakai, memverifikasi kesesuaiannya dengan standar baku, dan bertanggung jawab penuh atas naskah yang diajukan ke pembimbing; Tesify mempercepat penyusunan draf berdasarkan data yang Anda masukkan sendiri, bukan menggantikan penguasaan terminologi klinis yang menjadi tanggung jawab Anda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah boleh memakai istilah “pasien” dan “responden” untuk orang yang sama dalam satu skripsi?

Boleh, selama konsisten dengan konteksnya — gunakan “pasien” saat membahas peran klinis mereka (Bab I-II), dan “responden”/”partisipan” saat membahas peran mereka sebagai sumber data penelitian (Bab III-IV).

Ke mana mengecek istilah diagnosis keperawatan yang sesuai standar?

Rujuk buku SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SIKI, dan SLKI yang diterbitkan PPNI — pastikan Anda memakai edisi terbaru yang berlaku di kampus Anda, karena istilah dan struktur diagnosis bisa direvisi antar edisi.

Apakah nama lengkap pasien boleh dicantumkan bila sudah ada persetujuan tertulis?

Sebaiknya tetap tidak, meski ada persetujuan — gunakan inisial atau kode karena naskah skripsi akan diunggah ke repositori publik kampus yang bisa diakses siapa saja, bukan hanya pembimbing dan penguji.

Apakah kalimat pasif wajib dipakai di seluruh naskah?

Tidak wajib di seluruh bagian — kalimat pasif lebih konvensional untuk metode dan hasil, sementara pembahasan boleh memakai kalimat aktif saat membangun argumen dan interpretasi. Sesuaikan dengan konteks tiap bagian, bukan aturan kaku yang berlaku sama di semua bab.

Bagaimana jika istilah bahasa Inggris tidak punya padanan resmi di SDKI?

Gunakan istilah bahasa Inggris asli dicetak miring, dengan penjelasan singkat dalam bahasa Indonesia pada penyebutan pertama — jangan memaksakan terjemahan bebas yang berisiko mengubah makna klinisnya.

Apakah singkatan yang sudah sangat umum (seperti TD, HR) tetap perlu didefinisikan?

Ya, tetap perlu didefinisikan lengkap pada penyebutan pertama — konvensi penulisan ilmiah mengasumsikan pembaca mungkin bukan spesialis bidang yang sama, termasuk anggota tim penguji dari latar belakang berbeda.

Apakah gaya bahasa ini berbeda antara skripsi kuantitatif dan kualitatif keperawatan?

Prinsip dasarnya sama (istilah baku, konsistensi kode identitas, singkatan terdefinisi), tapi skripsi kualitatif biasanya memakai kutipan langsung ucapan partisipan yang perlu ditandai jelas (tanda kutip, indentasi) dan dipisahkan secara visual dari analisis peneliti.

Apakah desimal harus ditulis dengan koma atau titik?

Konvensi bahasa Indonesia memakai koma (0,05), tapi beberapa kampus punya aturan berbeda tergantung format naskah yang diminta — cek pedoman fakultas Anda, dan yang terpenting jaga konsistensi satu format di seluruh naskah.

Apa itu person-first language dan kenapa penting dalam skripsi keperawatan?

Person-first language menempatkan orang sebelum kondisinya (“pasien dengan diabetes” bukan “pasien diabetes”), menekankan bahwa kondisi kesehatan bukan identitas utama seseorang — konvensi ini semakin dianggap standar dalam penulisan ilmiah kesehatan kontemporer, termasuk oleh sebagian pembimbing dan penguji keperawatan.

Apakah edisi SDKI/SIKI/SLKI yang berbeda bisa membuat istilah yang saya pakai dianggap salah?

Bisa — istilah dan struktur diagnosis kadang direvisi antar edisi standar tersebut. Selalu cek edisi terbaru yang berlaku di kampus Anda saat menulis, dan sebutkan edisi yang Anda rujuk secara eksplisit di daftar pustaka agar penguji tahu persis acuan yang Anda pakai.