Apa Bedanya Skripsi, Tesis, dan Disertasi di Indonesia?

Skripsi adalah tugas akhir jenjang sarjana (S1), tesis untuk magister (S2), dan disertasi untuk doktor (S3). Perbedaan intinya bukan pada jumlah halaman, melainkan pada tuntutan kebaruan: skripsi menerapkan teori yang sudah mapan pada satu kasus, tesis menguji dan mengembangkan teori itu, sedangkan disertasi wajib menyumbang temuan yang sebelumnya belum ada.

Pertanyaan ini sering muncul saat mahasiswa tingkat akhir mulai menyusun proposal dan menemukan istilah yang dipakai bergantian di berbagai sumber. Padahal ketiganya punya posisi yang berbeda dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia, dan perbedaan itu punya dasar hukum yang bisa Anda cek sendiri.

Apa dasar hukum ketiga istilah ini?

Ketiga istilah tersebut disebut secara eksplisit dalam Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 638). Peraturan ini mengatur bentuk tugas akhir untuk setiap jenjang:

  • Pasal 18 ayat (9): program sarjana atau sarjana terapan memastikan ketercapaian kompetensi lulusan melalui pemberian tugas akhir yang dapat berbentuk skripsi, prototipe, proyek, atau bentuk tugas akhir lainnya yang sejenis, baik individu maupun berkelompok; atau melalui penerapan kurikulum berbasis proyek.
  • Pasal 19 ayat (2): mahasiswa program magister atau magister terapan wajib diberikan tugas akhir dalam bentuk tesis, prototipe, proyek, atau bentuk tugas akhir lainnya yang sejenis.
  • Pasal 20 ayat (3): mahasiswa program doktor atau doktor terapan wajib diberikan tugas akhir dalam bentuk disertasi, prototipe, proyek, atau bentuk tugas akhir lainnya yang sejenis.

Perhatikan satu detail yang sering terlewat: kata yang dipakai untuk jenjang sarjana adalah dapat, sedangkan untuk magister dan doktor adalah wajib. Perbedaan satu kata inilah yang menjadi dasar perubahan besar pada aturan skripsi.

Apakah skripsi masih wajib untuk mahasiswa S1 pada 2026?

Secara nasional, skripsi tidak lagi otomatis wajib. Pasal 18 ayat (9) memberi program studi dua jalur untuk membuktikan ketercapaian kompetensi lulusan: memberikan tugas akhir (yang boleh berupa skripsi, prototipe, atau proyek), atau menerapkan kurikulum berbasis proyek dengan asesmen yang menunjukkan ketercapaian kompetensi.

Namun ada jarak antara yang diizinkan peraturan dan yang berlaku di kampus Anda. Peraturan memberi kewenangan kepada program studi, bukan kepada mahasiswa. Dalam praktiknya, sebagian besar program studi di Indonesia masih menetapkan skripsi sebagai bentuk tugas akhir. Yang menentukan bagi Anda adalah buku pedoman penulisan karya ilmiah fakultas dan kurikulum program studi yang berlaku pada angkatan Anda, bukan berita nasional tentang perubahan aturan.

Langkah praktisnya: cari dokumen kurikulum prodi Anda dan periksa apakah mata kuliah tugas akhir masih bernama “Skripsi” dan berapa bobot SKS-nya. Itu jawaban yang mengikat, bukan tafsir peraturan.

Di jenjang KKNI mana masing-masing berada?

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang diatur Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 menempatkan lulusan pada jenjang yang berbeda. Pasal 5 peraturan itu menyatakan lulusan Diploma 4 atau Sarjana Terapan dan Sarjana paling rendah setara dengan jenjang 6, lulusan Magister Terapan dan Magister paling rendah setara dengan jenjang 8, dan lulusan Doktor Terapan dan Doktor setara dengan jenjang 9.

Yang menarik, tidak ada lompatan dari jenjang 6 langsung ke 8 tanpa alasan. Jenjang 7 ditempati lulusan pendidikan profesi. Artinya jarak kualifikasi antara sarjana dan magister setara dua tingkat, dan inilah yang tercermin pada perbedaan tuntutan tugas akhirnya.

Apa perbedaan tuntutan kebaruan ketiganya?

Ini pembeda yang paling menentukan, dan paling sering disalahpahami sebagai perbedaan jumlah halaman.

Skripsi menerapkan. Anda mengambil teori atau model yang sudah mapan dan menerapkannya pada satu objek, kasus, atau populasi yang belum pernah diteliti dengan teori itu. Kebaruannya terletak pada konteks, bukan pada teorinya. Menguji pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di satu koperasi di Kabupaten Sleman adalah skripsi yang sah, meskipun model SERVQUAL sudah dipakai ribuan kali.

Tesis menguji dan mengembangkan. Anda tidak cukup menerapkan. Anda harus menunjukkan bahwa ada persoalan pada teori atau bukti yang ada: hasil penelitian terdahulu bertentangan, ada variabel yang belum pernah dimasukkan, atau konteks Indonesia memberi hasil berbeda dari literatur internasional. Tesis menambahkan sesuatu pada percakapan ilmiah, misalnya variabel moderasi baru atau pengujian model pada populasi yang secara teoretis berbeda.

Disertasi menghasilkan yang belum ada. Tuntutannya adalah kontribusi orisinal terhadap ilmu pengetahuan: model baru, konsep baru, metode baru, atau temuan yang mengubah cara bidang itu memahami suatu persoalan. Penguji akan bertanya secara langsung: apa yang tidak diketahui dunia sebelum disertasi ini ditulis?

Berapa beban studi dan masa tempuh masing-masing?

Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 juga mengatur beban belajar setiap jenjang:

Aspek Skripsi (S1) Tesis (S2) Disertasi (S3)
Jenjang KKNI 6 8 9
Beban belajar program Minimal 144 SKS 54–72 SKS Diatur per program
Masa tempuh kurikulum 8 semester 3–4 semester 6 semester
Status tugas akhir Dapat berbentuk skripsi Wajib tesis atau sejenis Wajib disertasi atau sejenis
Tuntutan utama Menerapkan teori Menguji dan mengembangkan Kontribusi orisinal

Sumber: Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 Pasal 18 ayat (1), Pasal 19 ayat (1) dan (2), Pasal 20 ayat (1) dan (3); Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 Pasal 5.

Satu catatan penting tentang jenjang doktor: Pasal 20 ayat (1) merancang masa tempuh kurikulum 6 semester yang terdiri atas 2 semester pembelajaran pendukung penelitian dan 4 semester penelitian. Jadi secara desain, sebagian besar waktu program doktor memang dialokasikan untuk penelitian, bukan perkuliahan.

Apa perbedaan metode penelitian yang biasa dipakai?

Tidak ada aturan yang mengunci metode tertentu untuk jenjang tertentu. Skripsi kuantitatif dengan uji regresi sederhana sama sahnya dengan skripsi kualitatif berbasis wawancara mendalam. Yang berbeda adalah kedalaman pembenarannya.

Pada skripsi, Anda cukup menjelaskan mengapa metode itu sesuai dengan rumusan masalah. Pada tesis, Anda harus membandingkan beberapa pilihan metode dan menjelaskan mengapa yang lain kurang tepat. Pada disertasi, pilihan metode itu sendiri sering menjadi bagian dari kontribusi, misalnya menggabungkan dua pendekatan yang biasanya dipakai terpisah.

Jika Anda masih ragu menentukan pendekatan, mulailah dari rumusan masalah, bukan dari metode. Panduan memilih antara metode kualitatif dan kuantitatif untuk skripsi menjelaskan cara membaca rumusan masalah Anda untuk menentukan pendekatan yang tepat.

Bagaimana perbedaan struktur babnya?

Struktur lima bab (pendahuluan, tinjauan pustaka, metode, hasil dan pembahasan, penutup) adalah pola paling umum untuk skripsi dan tesis di Indonesia. Perbedaannya ada pada bobot tiap bab.

Pada skripsi, bab tinjauan pustaka umumnya berisi uraian teori dan penelitian terdahulu yang relevan. Pada tesis, bab yang sama harus memuat pemetaan kesenjangan penelitian secara eksplisit: apa yang sudah dijawab literatur, apa yang belum, dan di mana posisi penelitian Anda. Pada disertasi, tinjauan pustaka sering dipecah menjadi beberapa bab dan kerap disertai bab tersendiri untuk pengembangan kerangka konseptual.

Jumlah bab disertasi juga lebih bervariasi karena banyak program doktor mengizinkan format kumpulan artikel, yaitu disertasi yang disusun dari beberapa artikel yang telah atau akan dipublikasikan, dengan bab pengantar dan bab sintesis. Ketentuan ini ditetapkan masing-masing perguruan tinggi.

Ruang sidang akademik dengan meja penguji dan podium mahasiswa
Komposisi penguji dan tahapan ujian berbeda pada setiap jenjang, dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi.

Siapa yang menguji dan bagaimana proses sidangnya?

Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 mengatur bahwa penilaian tugas akhir dilakukan oleh penguji yang independen dari pelaksanaan penelitian tugas akhir tersebut. Prinsip independensi ini berlaku untuk ketiga jenjang.

Yang berbeda adalah komposisi dan skalanya. Sidang skripsi umumnya melibatkan pembimbing dan beberapa penguji dari dalam program studi. Sidang tesis biasanya menambah penguji dengan kepakaran spesifik pada topik. Ujian disertasi umumnya berlapis, dimulai dari ujian kelayakan atau ujian tertutup, lalu ujian terbuka atau promosi, dan hampir selalu melibatkan penguji eksternal dari luar perguruan tinggi. Detail tahapannya ditetapkan oleh masing-masing kampus, sehingga buku pedoman pascasarjana Anda adalah rujukan yang mengikat.

Bagaimana perbedaan jumlah dan jenis referensinya?

Tidak ada angka minimum yang ditetapkan secara nasional. Yang berlaku adalah ketentuan selingkung fakultas, dan yang lebih menentukan adalah jenis rujukannya.

Skripsi umumnya masih menerima porsi buku teks yang besar. Tesis menuntut proporsi artikel jurnal yang jauh lebih tinggi, terutama artikel primer dan mutakhir. Disertasi hampir sepenuhnya bersandar pada artikel jurnal, prosiding, dan sumber primer, dengan buku teks hanya untuk landasan konseptual yang mapan.

Untuk ketiganya, sumber Indonesia yang relevan dapat ditelusuri melalui Garba Rujukan Digital (GARUDA) di garuda.kemdiktisaintek.go.id dan portal Science and Technology Index (SINTA) di sinta.kemdiktisaintek.go.id, keduanya dikelola Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Perhatikan bahwa alamat lama kedua portal yang berakhiran kemdikbud.go.id sudah tidak dapat diakses, sehingga tautan pada panduan lama kemungkinan besar sudah mati.

Istilah mana yang berlaku di kampus saya?

Gunakan istilah yang tertulis di buku pedoman fakultas Anda, bukan istilah yang paling umum di internet. Beberapa perguruan tinggi memakai istilah “tugas akhir” untuk seluruh jenjang, sebagian program studi teknik memakai “tugas akhir” untuk S1 dan mencadangkan “skripsi” untuk program studi non-teknik, dan sebagian program vokasi memakai “laporan akhir” atau “karya tulis ilmiah”.

Kesalahan penamaan pada halaman sampul adalah alasan revisi yang sepenuhnya bisa dihindari. Periksa penamaannya sejak proposal, bukan menjelang penjilidan.

Bagaimana menentukan ukuran sampel yang sesuai jenjang?

Pertanyaan susulan yang hampir selalu muncul setelah memahami perbedaan ketiganya adalah berapa banyak responden atau informan yang dibutuhkan. Jawabannya bergantung pada pendekatan dan populasi, bukan pada jenjang studi. Panduan cara menentukan jumlah sampel skripsi menjelaskan rumus yang paling sering diminta dosen pembimbing di Indonesia beserta batas penggunaannya.

Menulis bagian mana pun tanpa kehilangan arah

Memahami perbedaan ketiga jenjang membantu Anda menakar seberapa dalam argumen yang harus dibangun. Persoalannya, banyak mahasiswa berhenti bukan karena tidak paham teori, melainkan karena kesulitan menuangkan strukturnya ke dalam tulisan yang runtut bab demi bab.

Tesify membantu Anda menyusun kerangka dan mengembangkan setiap bagian secara bertahap, dengan Anda tetap sebagai penulis dan penanggung jawab isinya. Lebih dari 9.000 mahasiswa telah menggunakannya untuk menyusun lebih dari 15.000 bab, dan 100% tulisan tetap milik Anda.

Mulai susun kerangka tugas akhir Anda di Tesify

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah tesis lebih tebal daripada skripsi?

Belum tentu. Tidak ada ketentuan nasional tentang jumlah halaman. Tesis yang padat dan fokus bisa lebih tipis daripada skripsi yang bertele-tele. Yang dinilai penguji adalah kedalaman argumen dan ketepatan metode, bukan ketebalan.

Apakah saya bisa melanjutkan topik skripsi menjadi tesis?

Bisa, dan ini justru sering dianjurkan karena Anda sudah menguasai literaturnya. Syaratnya, tesis harus menaikkan tuntutan: menambah variabel, mengganti kerangka teori, memperluas populasi, atau menguji pada konteks yang secara teoretis berbeda. Mengulang skripsi dengan sampel lebih besar saja umumnya tidak diterima.

Apakah disertasi wajib menghasilkan publikasi?

Ketentuan publikasi ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi, bukan oleh satu aturan nasional yang seragam. Sebagian besar program doktor di Indonesia mensyaratkan publikasi pada jurnal terindeks sebelum ujian terbuka. Periksa buku pedoman sekolah pascasarjana Anda karena persyaratannya berbeda antarkampus dan dapat berubah antarangkatan.

Apa itu tugas akhir berbentuk prototipe atau proyek?

Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 menyebut prototipe dan proyek sebagai bentuk tugas akhir yang setara dengan skripsi, tesis, maupun disertasi. Bentuk ini umum pada program studi terapan dan rekayasa, misalnya membangun sistem, alat, atau purwarupa, disertai laporan yang menjelaskan landasan teori, metode pengembangan, dan pengujiannya.

Apakah tugas akhir boleh dikerjakan berkelompok?

Untuk jenjang sarjana, Pasal 18 ayat (9) secara eksplisit menyebut tugas akhir dapat dikerjakan baik secara individu maupun berkelompok. Untuk magister dan doktor, peraturan tidak menyebut opsi kelompok pada pasal yang sama. Kebijakan pelaksanaannya tetap ditentukan program studi.

Kenapa istilah di kampus saya berbeda dari yang ada di artikel ini?

Karena penamaan mata kuliah dan bentuk tugas akhir adalah kewenangan perguruan tinggi. Peraturan menetapkan kerangka minimum, sedangkan penamaan, bobot SKS, dan tahapan ujian ditetapkan melalui pedoman akademik masing-masing kampus.

Apakah S2 selalu 4 semester?

Pasal 19 ayat (1) merancang masa tempuh kurikulum magister pada rentang 3 sampai 4 semester dengan beban 54 sampai 72 SKS. Angka ini adalah rancangan kurikulum, bukan jaminan masa studi seseorang. Masa studi nyata bergantung pada kecepatan penyelesaian tesis.

Apa bedanya disertasi dengan buku ilmiah?

Disertasi ditulis untuk diuji, buku ilmiah ditulis untuk dibaca. Disertasi harus memperlihatkan seluruh jejak metodologisnya agar penguji dapat menilai kesahihan kesimpulannya, termasuk hal-hal yang tidak berhasil. Buku ilmiah umumnya menyembunyikan proses itu dan menyajikan hasilnya saja.

Apakah mahasiswa S1 sekarang bisa menolak mengerjakan skripsi?

Tidak. Pilihan bentuk tugas akhir ada pada program studi, bukan pada mahasiswa secara perorangan. Jika program studi Anda menetapkan skripsi sebagai bentuk tugas akhir, maka skripsi tetap menjadi kewajiban Anda.

Di mana saya bisa membaca contoh skripsi, tesis, dan disertasi yang sudah selesai?

Sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia menyediakan repositori daring yang memuat karya akhir mahasiswanya. Selain itu, artikel yang lahir dari tugas akhir tersebut sering dapat ditelusuri melalui GARUDA dan SINTA. Membaca dua atau tiga karya dari program studi yang sama adalah cara tercepat memahami standar yang berlaku di tempat Anda.