Anda sudah mengumpulkan tiga puluh jurnal, sudah membaca semuanya, dan bab dua sudah tebal. Tetapi catatan dosen pembimbing tetap sama setiap kali: “ini masih kumpulan kutipan, belum sintesis”. Frustrasi itu wajar, karena tidak ada yang pernah menunjukkan bentuk paragraf yang beliau maksud. Masalahnya bukan jumlah bacaan Anda dan bukan kemampuan menulis. Masalahnya ada pada bentuk paragrafnya, dan bentuk itu bisa dipelajari dalam sepuluh menit.
Kenapa Bab Dua Terbaca sebagai Tempelan
Bab dua yang ditolak hampir selalu punya bentuk paragraf yang sama: satu paragraf, satu penulis. Menurut Sugiyono begini. Menurut Robbins begitu. Menurut Kotler demikian. Setiap paragraf berdiri sendiri, tidak ada yang berbicara dengan tetangganya, dan pembaca tidak pernah diberi tahu apa pendapat Anda tentang kumpulan itu.
Susunan seperti ini sebenarnya adalah catatan baca yang dirapikan, bukan tinjauan pustaka. Ia menunjukkan bahwa Anda sudah membaca, tetapi tidak menunjukkan bahwa Anda sudah berpikir. Yang dicari penguji di bab dua justru yang kedua: bukti bahwa Anda bisa menempatkan penelitian Anda sendiri di antara penelitian orang lain.
Pola Empat Bagian yang Mengubahnya
Setiap paragraf bab dua yang baik memuat empat bagian, dalam urutan ini. Tidak harus empat kalimat; satu bagian bisa memakan dua kalimat. Yang tidak boleh adalah menghilangkan salah satu bagian.
- Kalimat topik yang berupa pernyataan Anda, bukan nama orang. Bukan “Menurut Robbins (2019), motivasi terbagi menjadi dua.” Melainkan “Literatur membagi motivasi menjadi dua sumber yang berbeda pengaruhnya terhadap kinerja.”
- Bukti dari dua sumber atau lebih. Di sinilah kutipan masuk, dan di sinilah paragraf tempelan berbeda dari sintesis: satu paragraf memuat lebih dari satu penelitian.
- Tafsir Anda atas bukti tersebut. Apa yang disepakati kedua sumber itu, dan di mana keduanya berbeda. Bagian inilah yang paling sering hilang.
- Kaitan ke penelitian Anda. Satu kalimat yang menjelaskan mengapa hal ini penting bagi variabel atau konteks yang Anda teliti.
Contoh Utuh: Sebelum dan Sesudah
Sebelum (tempelan, dua paragraf):
Menurut Robbins dan Judge (2019), motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seseorang dalam mencapai tujuan. Motivasi terdiri atas motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
Menurut Deci dan Ryan (2000), motivasi intrinsik muncul dari dalam diri individu tanpa dorongan luar. Motivasi ekstrinsik muncul karena imbalan dari luar.
Sesudah (sintesis, satu paragraf):
Literatur sepakat membagi motivasi menjadi sumber intrinsik dan ekstrinsik, tetapi berbeda dalam menilai mana yang lebih menentukan ketekunan kerja. Robbins dan Judge (2019) menempatkan keduanya sebagai komponen setara dari satu proses yang sama, sedangkan Deci dan Ryan (2000) menyatakan bahwa imbalan eksternal dapat menggeser dorongan internal apabila diberikan terus-menerus. Perbedaan ini penting karena keduanya menghasilkan ramalan yang berlawanan tentang efek kenaikan tunjangan: yang pertama memperkirakan kinerja naik, yang kedua memperkirakan dorongan internal justru melemah. Penelitian ini menguji kedua ramalan tersebut pada karyawan yang menerima skema tunjangan tetap.
Dua paragraf menjadi satu, jumlah kata hampir sama, tetapi paragraf kedua melakukan pekerjaan yang tidak dilakukan paragraf pertama: ia menunjukkan sebuah perselisihan dan menjelaskan mengapa perselisihan itu menjadi alasan penelitian Anda ada.
Tiga Jenis Paragraf Sintesis yang Dikenali Penguji
Tidak semua paragraf bab dua berbentuk sama. Ada tiga bentuk yang lazim, dan bab dua yang matang memakai ketiganya:
| Bentuk | Kalimat topiknya menyatakan | Dipakai untuk |
|---|---|---|
| Kesepakatan | Beberapa penelitian menemukan hal yang sama | Membangun dasar yang tidak perlu diperdebatkan |
| Perselisihan | Penelitian terdahulu berbeda hasil atau tafsir | Membuka ruang bagi penelitian Anda |
| Kekosongan | Belum ada penelitian pada konteks tertentu | Menyiapkan rumusan masalah |
Aturan praktis: paragraf kesepakatan diletakkan lebih awal, paragraf perselisihan di tengah, dan paragraf kekosongan tepat sebelum kerangka berpikir. Urutan ini membuat bab dua bergerak dari yang sudah pasti menuju yang belum dikerjakan — dan yang belum dikerjakan itulah penelitian Anda.

Cara Menyusunnya Tanpa Membaca Ulang Semuanya
Bila tiga puluh jurnal Anda sudah dibaca tetapi belum tersusun, kerjakan urutan ini dan jangan menulis satu paragraf pun sebelum langkah ketiga selesai:
- Buat satu tabel dengan lima kolom: penulis dan tahun, variabel yang diteliti, konteks atau lokasi, temuan utama dalam satu kalimat, dan kolom terakhir bernama “sepakat dengan siapa”. Isi kolom terakhir belakangan.
- Urutkan tabel menurut temuan, bukan menurut tahun. Penelitian yang temuannya sejenis akan berkumpul sendiri, dan kelompok itulah calon paragraf Anda.
- Beri nama setiap kelompok dengan satu kalimat pernyataan. Kalimat itu langsung menjadi kalimat topik paragraf.
- Tulis paragraf mengikuti pola empat bagian. Bukti diambil dari baris-baris dalam kelompok, tafsir diambil dari kolom terakhir.
Untuk sebagian besar skripsi, tiga puluh sumber menghasilkan enam sampai sembilan kelompok, artinya enam sampai sembilan paragraf sintesis — jauh lebih pendek daripada tiga puluh paragraf tempelan, dan jauh lebih kuat. Bila sumber Anda ternyata belum cukup beragam untuk membentuk kelompok, perluas dulu penelusurannya dengan basis data yang dibandingkan di panduan GARUDA, SINTA, Google Scholar, dan DOAJ.
Kesalahan yang Membuat Paragraf Kembali Menjadi Tempelan
- Kalimat topik berisi nama penulis. Begitu paragraf dimulai dengan “Menurut X”, paragraf itu terikat pada satu sumber sampai akhir.
- Tafsir diganti dengan kata penghubung. Menambahkan “selain itu” di depan kutipan kedua bukan sintesis; itu hanya menempelkan dua tempelan.
- Semua sumber dianggap sepakat. Bab dua tanpa satu pun perselisihan biasanya berarti Anda membaca ringkasannya, bukan temuannya.
- Kutipan langsung terlalu banyak. Kutipan langsung menaikkan angka kemiripan dan menurunkan kesan bahwa Anda memahami isinya. Simpan untuk definisi yang benar-benar harus persis.
Kesalahan terakhir punya akibat administratif, bukan hanya gaya. Batas kemiripan yang lazim dipakai kampus dan cara menghitungnya dijelaskan di berapa persen plagiarisme yang diperbolehkan untuk skripsi, sedangkan bentuk entri rujukannya ada di panduan daftar pustaka APA 7.
Bab Dua yang Selesai Membuat Bab Berikutnya Ikut Selesai
Ini bagian yang jarang disadari. Paragraf kekosongan yang Anda tulis di akhir bab dua adalah bahan mentah rumusan masalah; paragraf perselisihan adalah bahan mentah hipotesis; dan kelompok-kelompok dalam tabel Anda adalah bahan mentah pembahasan di bab empat, ketika Anda harus membandingkan temuan sendiri dengan penelitian terdahulu. Bab dua yang berbentuk sintesis membuat tiga bab berikutnya jauh lebih cepat ditulis. Kerangka teorinya sendiri disusun dengan langkah-langkah di panduan membuat kerangka teori skripsi, dan kalimat penyambung antarbabnya dibahas di menyambungkan antarbab skripsi.
Delapan Kalimat Topik yang Bisa Anda Salin
Bagian tersulit hampir selalu kalimat pertama. Delapan rangka di bawah sudah berbentuk pernyataan, bukan nama penulis; tinggal Anda isi dengan variabel dan konteks Anda sendiri.
- “Literatur sepakat bahwa X berhubungan dengan Y, tetapi berbeda dalam menjelaskan mekanismenya.”
- “Sebagian besar penelitian mengukur X dengan instrumen yang sama, sehingga hasilnya sulit dibandingkan dengan konteks Z.”
- “Temuan tentang X terbelah menurut jenis organisasi yang diteliti.”
- “Penelitian pada satu dekade terakhir menggeser penjelasan X dari faktor individu ke faktor situasi.”
- “Definisi X yang dipakai penelitian terdahulu tidak seragam, dan perbedaan itu menjelaskan sebagian selisih hasilnya.”
- “Hubungan antara X dan Y terbukti konsisten pada sampel besar, tetapi belum diuji pada populasi berukuran kecil seperti dalam penelitian ini.”
- “Belum ada penelitian yang menguji X pada konteks Z di Indonesia, meskipun kondisi Z berbeda pada tiga hal yang relevan.”
- “Dua penjelasan teoretis bersaing untuk hubungan yang sama, dan keduanya menghasilkan ramalan yang berlawanan.”
Perhatikan bahwa tujuh dari delapan rangka tersebut bisa salah. Itulah tandanya kalimat topik yang bekerja: pembaca dapat membayangkan bukti yang akan membantahnya, sehingga paragraf berikutnya punya alasan untuk ada. Kalimat seperti “motivasi merupakan hal yang penting dalam organisasi” tidak bisa salah, dan karena itu tidak menyampaikan apa pun.
Kalau Waktu Anda Tinggal Dua Minggu
Jangan menulis ulang bab dua dari nol. Kerjakan tiga hal saja:
- Gabungkan paragraf yang membicarakan hal sejenis menjadi satu, lalu tulis ulang kalimat pertamanya sebagai pernyataan.
- Tambahkan satu kalimat tafsir di setiap paragraf hasil gabungan.
- Tulis satu paragraf kekosongan baru di akhir, tepat sebelum kerangka berpikir.
Tiga langkah ini biasanya mengubah kesan seluruh bab dalam satu hari kerja. Di sinilah alat bantu masuk akal: Tesify dapat menggabungkan paragraf sejenis, mengusulkan kalimat topik berbentuk pernyataan, dan menandai paragraf yang hanya memuat satu sumber, sehingga Anda tinggal memutuskan tafsirnya. Yang tidak dilakukan Tesify adalah memutuskan pendapat Anda tentang literatur itu — dan itu memang bagian yang dinilai. Anda tetap penulis dan penanggung jawab naskahnya, dan tafsir yang Anda tulis harus benar-benar tafsir Anda.
Bila Anda ingin memulai, siapkan tabel lima kolom itu lebih dulu. Bab dua yang berputar-putar selama berbulan-bulan hampir selalu berhenti berputar begitu tabelnya jadi.
Uji Enam Pertanyaan: Sudah Sintesis atau Belum?
Sebelum mengirimkan bab dua ke pembimbing, jawab enam pertanyaan berikut dengan naskah di depan Anda. Setiap jawaban “tidak” menunjuk satu perbaikan yang konkret, bukan perasaan samar bahwa naskah kurang bagus.
- Berapa banyak paragraf yang dimulai dengan nama penulis? Idealnya nol. Setiap paragraf yang dimulai dengan “Menurut X” perlu ditulis ulang kalimat pertamanya.
- Berapa banyak paragraf yang memuat dua sumber atau lebih? Sasarannya mayoritas. Bila kurang dari separuh, naskah Anda masih berbentuk daftar.
- Adakah satu paragraf yang menyebut penelitian terdahulu berbeda pendapat? Bila tidak ada satu pun, hampir pasti Anda membaca ringkasan, bukan temuan.
- Bisakah Anda menunjuk satu paragraf yang menyatakan kekosongan penelitian? Paragraf itu adalah jembatan menuju rumusan masalah. Bila tidak ada, bab tiga Anda akan terasa muncul tiba-tiba.
- Apakah setiap kelompok temuan diakhiri kalimat yang mengaitkannya dengan variabel Anda? Tanpa kalimat kaitan, pembaca tidak tahu mengapa kelompok itu ada di skripsi Anda dan bukan di skripsi orang lain.
- Bila sepuluh paragraf tengah dihapus, apakah bab dua masih masuk akal? Bila iya, paragraf-paragraf itu memang tidak melakukan pekerjaan apa pun. Bila tidak, susunannya sudah bekerja.
Berapa Lama Perbaikannya?
Berdasarkan bentuk pekerjaannya, bukan janji: menulis ulang kalimat pertama sebuah paragraf memakan sekitar tiga menit. Menambahkan satu kalimat tafsir memakan lima menit karena Anda harus memutuskan sesuatu. Menggabungkan dua paragraf menjadi satu memakan sepuluh menit. Bab dua dengan dua puluh lima paragraf tempelan yang perlu diringkas menjadi delapan paragraf sintesis karena itu memakan sekitar tiga jam kerja terfokus — bukan berminggu-minggu.
Yang membuatnya terasa berminggu-minggu adalah mengerjakannya tanpa tabel. Tanpa tabel, setiap kali menulis satu paragraf Anda harus membaca ulang sumbernya untuk mengingat temuannya, dan pembacaan ulang itulah yang memakan waktu, bukan penulisannya. Tabel lima kolom mengubah pekerjaan membaca menjadi pekerjaan menyusun, dan pekerjaan menyusun jauh lebih cepat selesai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa jumlah paragraf yang wajar untuk bab dua?
Yang menentukan bukan jumlah paragraf melainkan jumlah kelompok temuan. Enam sampai sembilan paragraf sintesis lazim untuk skripsi dengan tiga puluh sumber. Bab dua dengan tiga puluh paragraf hampir pasti masih berbentuk tempelan.
Apakah setiap paragraf harus memuat lebih dari satu sumber?
Tidak semuanya, tetapi mayoritasnya iya. Paragraf definisi boleh bersumber tunggal. Paragraf yang membahas temuan sebaiknya selalu membandingkan.
Bagaimana bila semua penelitian terdahulu memang sepakat?
Cari perbedaan pada dimensi lain: konteks, ukuran sampel, instrumen, atau tahun. Kesepakatan pada hasil sering menyembunyikan perbedaan pada cara mengukur, dan perbedaan itu layak ditulis.
Apakah boleh mengutip skripsi orang lain di bab dua?
Boleh bila pedoman fakultas mengizinkan, tetapi perlakukan sebagai sumber pendukung, bukan sumber utama. Penguji menilai kekuatan sumber, dan artikel jurnal berperingkat lebih kuat daripada skripsi.
Berapa lama waktu wajar untuk menyusun ulang bab dua?
Bila sumbernya sudah terbaca, satu sampai tiga hari kerja untuk tabel dan penulisan ulang. Yang memakan waktu berbulan-bulan biasanya bukan penulisannya, melainkan pembacaan yang belum tuntas.
Apakah kalimat tafsir harus disertai rujukan?
Tidak, dan justru sebaiknya tidak. Tafsir adalah penilaian Anda atas sumber yang sudah dirujuk di kalimat sebelumnya. Menambahkan rujukan baru di kalimat tafsir mengembalikan paragraf menjadi tempelan.
Bagaimana menuliskan penelitian terdahulu yang hasilnya bertentangan dengan hipotesis saya?
Tulis apa adanya, lalu jelaskan mengapa konteks Anda mungkin berbeda. Menyembunyikannya adalah risiko besar: penguji yang menemukannya akan bertanya mengapa tidak Anda sebut.
Apakah tabel penelitian terdahulu perlu dimasukkan ke dalam naskah?
Banyak pedoman menganjurkannya, dan tabel itu memang berguna sebagai lampiran atau bagian akhir bab dua. Tetapi tabel tidak menggantikan paragraf sintesis; ia hanya menyajikan bahannya.
Bagaimana bila dosen pembimbing meminta bab dua yang lebih tebal?
Tambahkan kelompok temuan, bukan paragraf per penulis. Menambah tebal dengan cara menempelkan lebih banyak kutipan justru memperkuat kesan yang ingin Anda hilangkan.
